Pemerintah tengah menyiapkan skema insentif baru untuk kendaraan listrik yang rencananya akan berlaku pada 2026. Insentif kali ini diarahkan untuk mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), sementara kendaraan hybrid tidak masuk dalam skema yang sedang dibahas. Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Achmad Rofiqi, mengatakan, sejak awal hanya setuju insentif diberikan kepada mobil listrik murni. Duel MPV PHEV Baru: BYD M6 DM Tantang Dominasi Wuling Darion “Jika melihat China, pemerintah di sana membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 12 tahun untuk terlibat secara aktif dalam pengembangan industri kendaraan listrik sebelum akhirnya secara bertahap mengurangi intervensinya,” kata Rofiqi kepada Kompas.com, pekan lalu. “Pada tahap awal, pemerintah memberikan dukungan yang sangat besar. Bahkan, kendaraan yang masuk kategori range extender atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) juga mendapatkan insentif yang sama seperti kendaraan listrik murni,” ujarnya. Menurutnya, setiap negara memiliki strategi berbeda dalam membangun industri kendaraan listrik. Adapun untuk Indonesia, Rofiqi tetap memandang kendaraan listrik berbasis baterai sebagai arah utama pengembangan industri kendaraan ramah lingkungan di Tanah Air. Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) resmi menggelar konferensi bertajuk Periklindo EV Conference 2024. Acara digelar pada 12-13 September 2024 bertempat di Intercontinenal Bali Resort. “Dari sisi Periklindo, kami memiliki pandangan yang cukup jelas. Sejak awal, visi dan misi kami adalah mendukung pengembangan energi baru terbarukan. Periklindo juga lahir berdasarkan kebijakan pemerintah terkait Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB),” kata Rofiqi. Karena itu, Periklindo menilai kebijakan yang berfokus pada kendaraan listrik murni sejalan dengan tujuan awal pembentukan ekosistem kendaraan listrik nasional. “Karena itu, kami melihat arah pengembangan industri sebaiknya tetap berfokus pada kendaraan listrik berbasis baterai,” ujarnya. Menurut Rofiqi, kendaraan listrik murni memiliki potensi lebih besar dalam mendukung transisi energi karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil selama operasionalnya. Pameran Indomobil Expo 2026 resmi digelar, fokus pada mobil listrik. “Itulah sebabnya kami mendorong pemerintah, jika memungkinkan, untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada kendaraan listrik murni yang didukung energi baru terbarukan dibandingkan teknologi yang masih bergantung pada bahan bakar fosil,” kata Rofiqi. “Pada akhirnya, yang kami dorong adalah bagaimana transisi menuju penggunaan energi yang lebih bersih dapat berjalan secara optimal,” ujar Rofiqi. Untuk diketahui, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025, mobil hybrid masih mendapatkan dukungan berupa PPnBM Ditanggung Pemerintah sebesar 3 persen. Insentif tersebut mencakup kendaraan full hybrid, mild hybrid, dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang