Pemerintah memastikan mobil listrik bakal dapat insentif lagi tahun ini. Berkat insentif, harga mobil listrik jadi lebih murah berapa?Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap akan ada insentif yang diberikan untuk 200.000 mobil dan motor listrik tahun ini. Rencananya, insentif itu akan diberikan mulai Juni 2026. Untuk motor listrik, besaran subsidi yang diberikan sebesar Rp 5 juta. Sementara insentif mobil listrik masih belum ditentukan. Namun demikian, Purbaya menyebut insentifnya berupa PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah). "Jadi yang diomongin tadi PPN ya, PPN ditanggung pemerintah itu ada yang 100 persen ada yang 40 persen nanti masih disesuaikan skemanya itu untuk utamanya EV yang bukan hybrid," jelas Purbaya belum lama ini.Purbaya menjelaskan, skema insentif PPN DTP untuk EV itu akan bergantung dari material baterai yang digunakan. Lebih lanjut aturan itu bakal diatur Menteri Perindustrian. Insentif PPN DTP sebenarnya juga sudah diberikan untuk mobil listrik sejak tahun 2023.Pada tahun pertama itu, mobil listrik yang seharusnya dikenai PPN sebesar 11 persen, maka hanya dikenai tarif 1 persen. Berlanjut saat tarif PPN sudah 12 persen, mobil listrik yang memenuhi syarat hanya dikenai tarif sebesar 2 persen. Berkat insentif PPN tersebut harga mobil listrik jadi lebih murah.Sebagai gambaran, saat mendapat insentif harga mobil listrik Wuling Air ev itu bisa turun hingga Rp 20 jutaan. Mengutip hitungan pada aturan Permenkeu untuk insentif PPN yang berlaku pada tahun 2023, mobil listrik dengan harga jual Rp 300 juta dengan adanya insentif itu jadi hanya dikenai PPN sebesar Rp 3 juta. PPN yang dikenakan itu lebih hemat Rp 27 juta dari tarif seharusnya.Adapun soal skema insentif juga belum dijelaskan lebih lanjut. Namun Purbaya menyebut material baterai akan jadi salah satu pertimbangannya. Lebih lanjut aturan itu akan ditentukan melalui Kementerian Perindustrian."Nanti baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel nanti akan beda skemanya, tapi yang itu nanti Menteri Perindustrian. Kenapa saya pakai nikel lebih besar subsidinya karena supaya nikel kita kepakai," lanjut Purbaya.