Booth Wuling di IIMS 2025 Rencana pemerintah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk mobil listrik diperkirakan akan berdampak langsung pada harga jual di pasar. Skema ini bahkan disebut bisa membuat banderol kendaraan listrik turun signifikan, tergantung besaran insentif yang diberikan. Berdasarkan catatan VIVA Otomotif Jumat 8 Mei 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum lama ini menyatakan bahwa insentif akan diberikan dalam bentuk PPN Ditanggung Pemerintah (DTP). Besarannya bervariasi, mulai dari 40 persen hingga 100 persen, tergantung jenis baterai yang digunakan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Untuk memahami dampaknya, perlu dilihat bagaimana struktur harga mobil listrik terbentuk. Pada kondisi normal, harga yang dibayar konsumen sudah termasuk PPN sebesar 11 persen dari harga dasar kendaraan.Sebagai ilustrasi, jika sebuah mobil listrik dijual seharga Rp200 juta di diler, maka angka tersebut sudah mencakup komponen PPN. Setelah dihitung, harga dasar mobil berada di kisaran Rp180 juta, sementara PPN yang dibebankan mencapai hampir Rp20 juta.Ketika insentif PPN DTP sebesar 100 persen diberikan, maka seluruh komponen PPN tersebut ditanggung pemerintah. Artinya, konsumen hanya perlu membayar harga dasar kendaraan tanpa tambahan pajak, sehingga harga bisa turun menjadi sekitar Rp180 jutaan.Sementara itu, jika insentif yang diberikan hanya 40 persen, maka dampaknya tidak sebesar itu. Konsumen masih harus membayar sebagian PPN, sehingga harga hanya turun ke kisaran Rp192 jutaan.Dari simulasi tersebut terlihat bahwa dampak insentif sangat bergantung pada besaran yang diberikan. Semakin besar persentase PPN yang ditanggung pemerintah, semakin besar pula penurunan harga yang dirasakan konsumen. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Meski demikian, perlu dipahami bahwa potongan harga tidak serta-merta mencapai 11 persen dari harga jual. Dalam praktiknya, penurunan maksimal berada di kisaran 9–10 persen dari harga on the road.Kebijakan ini berpotensi mengubah peta persaingan di pasar otomotif nasional. Mobil listrik yang mendapatkan insentif penuh bisa menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin maupun hybrid.