Pemerintah RI tengah mematangkan pemberian insentif untuk pembelian kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) di dalam negeri guna merangsang daya beli pada semester II/2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, salah satu skema yang sedang dipertimbangkan ialah pemberian insentif lebih besar bagi mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong pemanfaatan sumber daya mineral dalam negeri sekaligus memperkuat industri baterai nasional. “Yang baterainya berbasis nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Perhitungannya nanti dilakukan oleh Menteri Perindustrian. Kenapa yang nikel lebih besar subsidinya? Karena supaya nikel kita terpakai,” kata Purbaya. Menanggapi rencana tersebut, Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia Luther Pandjaitan menyampaikan bahwa pihaknya menyambut positif setiap kebijakan pemerintah yang bertujuan mempercepat transisi energi dan elektrifikasi kendaraan di Tanah Air. Meski demikian, Luther mengaku belum dapat memberikan tanggapan lebih jauh karena belum ada informasi resmi terkait skema insentif yang dimaksud. “Saya belum bisa memberi tanggapan karena belum ada informasi resmi terkait hal tersebut. Tapi saya percaya intensi pemerintah adalah mendukung percepatan transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap subsidi bahan bakar,” ujar Luther di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ilustrasi baterai mobil listrik Menurut dia, situasi geopolitik global yang semakin kompleks juga menjadi alasan penting bagi Indonesia untuk mulai mengurangi ketergantungan pada ekosistem kendaraan berbasis bahan bakar fosil. Luther menilai, baik baterai berbasis nikel maupun lithium ferro phosphate (LFP) sama-sama memiliki peran dalam mendukung agenda elektrifikasi nasional. “Apapun teknologinya, baik nikel maupun LFP, keduanya mendukung niat baik pemerintah dalam mendorong transisi energi,” kata dia. Terkait kemungkinan BYD beralih menggunakan baterai nickel manganese cobalt (NMC) apabila nantinya insentif lebih besar diberikan kepada kendaraan berbasis nikel, Luther mengatakan perusahaan tetap mengedepankan strategi jangka panjang. Ia menyebut kebijakan pemerintah merupakan bagian dari dinamika pasar yang akan terus berkembang, sementara fokus utama BYD ialah menghadirkan produk yang dapat mendukung percepatan elektrifikasi secara menyeluruh. ePlatform 3.0 BYD di IIMS 2026. “Strategi BYD adalah strategi jangka panjang. Policy merupakan salah satu dinamika market dan kami berharap kebijakan ini bisa menjadi booster terhadap penjualan kendaraan listrik,” ujarnya. “Kami bersyukur dengan konsistensi serta stabilitas kebijakan yang ada saat ini karena itu terefleksi pada pertumbuhan penjualan dan pangsa pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia,” lanjut Luther. Ia juga menilai rencana tambahan insentif dari pemerintah menjadi sinyal bahwa kebijakan yang diterapkan selama ini cukup efektif dalam mempercepat penetrasi kendaraan listrik di pasar domestik. “Yang penting momentumnya tetap dijaga dan kepercayaan konsumen terus meningkat. Sekarang masyarakat sudah semakin yakin menggunakan kendaraan elektrifikasi,” tuturnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang