Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya mengatakan insentif mobil listrik yang menggunakan baterai nikel akan lebih besar. Mayoritas mobil listrik yang dijual di Indonesia pakai tipe apa?Mayoritas mobil listrik yang dijual di Indonesia saat ini menggunakan jenis baterai LFP (Lithium Ferro Phospate). Di antaranya merek BYD, Jaecoo, Aion, Denza, Geely, GWM Chery, DFSK, Geely, MG, Polytron, Seres, Nissan, Toyota, VinFast, Wuling, Xpeng, dan Changan.Di sisi lain, mobil hybrid paling banyak menggunakan jenis baterai nikel. Salah satu produk buatan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang menggunakan bahan baku nikel adalah Innova Zenix. MPV keluarga itu diketahui menggunakan baterai Nickel-Metal Hydrida (NiMH). Jenis baterai itu juga sama seperti yang digunakan pada mobil hybrid Toyota lain yang sudah terlebih dulu dijual di Indonesia seperti Corolla Cross Hybrid maupun Camry Hybrid.Insentif Bakal Lebih Besar kalau Pakai NikelSalah satu instrumen utama dalam dorongan ini adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah. Pemerintah tengah melakukan pemindaian (scanning) mendalam terhadap skema yang paling efektif untuk diterapkan."PPN ditanggung pemerintah itu ada yang 100 persen, ada yang 40 persen, nanti masih di-scan skemanya," ujar Menkeu Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (5/5/2026).Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan mekanisme pemberian subsidi akan dibedakan berdasarkan jenis teknologi baterai yang digunakan."Itu untuk yang utamanya EV. Bukan hybrid. Jadi yang baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Tapi yang itu nanti (dijelaskan) Menteri Perindustrian," tambahnya.Insentif lebih besar bagi kendaraan listrik dengan baterai nikel didasarkan pada strategi besar hilirisasi industri nasional. Indonesia, yang memiliki cadangan nikel melimpah, ingin memastikan sumber daya alam tersebut memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri."Kenapa saya pakai nikel yang besar subsidinya, karena supaya baterai kita kepakai," jelas Purbaya.Langkah ini juga menjadi upaya pemerintah untuk menepis keraguan global terkait masa depan industri baterai tanah air."Dulu saya baca di Economist, judulnya apa? Mimpi Indonesia menguasai dunia baterai hilang. Karena China pakai bukan nikel, kita balik sekarang, nikelnya kita pakai, biar punya kita nikelnya bisa kepakai, dan hilirisasi teknologi baterainya berjalan," tegasnya.