Saat sejumlah pabrikan mulai beralih menggunakan transmisi Continuously Variable Transmission (CVT) pada mobil penumpang, Suzuki masih mempertahankan penggunaan transmisi otomatis konvensional pada beberapa produknya seperti Suzuki Ertiga atau XL7. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Deputy to 4W Sales & Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Dony Ismi Saputra mengatakan, Suzuki memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan teknologi yang digunakan pada produknya. Menurut dia, Suzuki lebih mengutamakan aspek nilai guna, ketahanan, serta biaya operasional kendaraan dalam jangka panjang. Suzuki Sebut Transmisi Bukan Sekadar Teknologi Terbaru Dony mengatakan, setiap pabrikan memiliki strategi masing-masing dalam menghadirkan produk untuk konsumen. Suzuki, kata dia, lebih fokus memberikan value yang bisa dirasakan selama masa penggunaan kendaraan. "Sebagai contoh, kenapa sampai sekarang kami masih setia pada automatic transmission? Dibilangnya matic jadul," ujar Dony, kepada Kompas.com, di Jakarta Pusat, belum lama ini. Suzuki Ertiga Hybrid Cruise meluncur di IIMAS 2024 Menurutnya, ketika transmisi CVT mulai banyak digunakan di Indonesia sekitar lima tahun lalu, Suzuki sudah melihat bahwa teknologi tersebut memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. "Kan mungkin secara 5 tahun yang lalu pada saat transmisi CVT ini diperkenalkan ya di Indonesia, mulai booming, kan bicara, 'Wah, lebih enak CVT, lebih smooth, lebih apa,'. Pada saat itu, kami sudah memprediksi time will tell bahwa CVT memang ada kelebihan, tapi ada kekurangan," kata dia. Dony menjelaskan, Suzuki memilih mempertahankan transmisi otomatis konvensional karena ingin menawarkan aspek durability dan biaya perawatan yang lebih rendah. "Nah, untuk produk yang kami tawarkan, yang kami tawarkan itu adalah durability dan operational cost," ucapnya. Suzuki Utamakan Durabilitas dan Biaya Perawatan Menurut Dony, transmisi otomatis konvensional dinilai masih memiliki keunggulan dari sisi ketahanan dan biaya pemeliharaan. "Dengan transmisi yang kami tawarkan, biaya pemeliharaan lebih murah, itu yang pertama, secara kekuatan durability lebih baik. Sehingga waktu konsumsi terhadap produk dan fitur tersebut bisa lebih lama, lebih durable," kata Dony. Ia mengatakan, keputusan memilih teknologi bukan hanya berdasarkan tren terbaru, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat selama kendaraan digunakan konsumen. Sebab, menurut Suzuki, nilai sebuah produk tidak hanya dirasakan saat konsumen membeli mobil, tetapi juga selama proses kepemilikan. "Value itu tidak hanya terasa pada saat konsumen melakukan pembelian atau mengakuisisi kan, atau mengonsumsi produk. Tapi pada saat konsumen dalam proses mengonsumsi, itu juga kami pikirkan secara matang," ujar Dony. Booth Suzuki di GIIAS 2025 Suzuki Klaim Fokus pada Kebutuhan Konsumen Dony menambahkan, strategi Suzuki dalam menghadirkan produk adalah memastikan setiap komponen dan fitur yang digunakan memang sesuai dengan kebutuhan konsumen.