Merawat sepeda motor tidak sebatas mengganti oli secara berkala, tetapi juga memperhitungkan pergantian suku cadang seiring bertambahnya usia pakai. Lini sepeda motor besutan Suzuki memang dikenal memiliki durabilitas yang awet. Namun, semakin tua usia kendaraan, harga suku cadangnya justru terpantau terus merangkak naik. Sebagai gambaran, komponen bodi halus untuk Suzuki Shogun keluaran 2007 yang semula dibanderol sekitar Rp 50.000-an saat awal meluncur, kini harganya sudah menembus Rp 90.000 atau naik hampir 100 persen. Toko sparepart Suzuki di Jalan Kebon Jeruk, Sena Erajaya Agung Kenaikan Rutin Setiap Tahun Rudi, tenaga penjual dari penyalur suku cadang asli Suzuki Sena Erajaya Agung di kawasan Kebon Jeruk VII, Jakarta Barat, menjelaskan bahwa lonjakan harga ini dipengaruhi oleh status kendaraan yang mulai tergolong langka di pasaran. “Harga sparepart naik terus. Sparepart masih produksi, tapi kan motornya sudah jadi barang antik, tambah naik,” ujar Rudi saat ditemui Kompas.com, belum lama ini. Ia menambahkan bahwa penyesuaian harga tersebut terjadi secara konsisten setiap tahun untuk hampir seluruh komponen. “Sparepart tambah lama, tambah naik harganya. Misal bodi motor, sekarang Rp 90.000, dulunya itu dari Rp 50.000-an, tiap tahun naik. Setahun kadang 20 persen, 30 persen naik. Buat semua,” kata Rudi. Motor Dua Tak Naik Paling Drastis Tak hanya komponen motor empat tak, lonjakan harga paling signifikan justru dialami oleh lini motor bermesin dua tak. Hal ini dipicu oleh keterbatasan pasokan komponen lokal yang membuat sebagian besar suku cadangnya harus didatangkan secara impor. “Tapi buat dua tak naiknya lebih parah, bisa 50 persen, 100 persen sekali naik. Karena kan dua tak kebanyakan barang impor,” tutur Rudi. Mengenai jenis komponennya, pergerakan kenaikan harga ini dominan menyasar sektor dapur pacu kendaraan. “Kebanyakan komponen mesin. Kalau bodi kadang-kadang, tetap naik,” pungkasnya.