Pilihan sepeda motor bekas buatan pabrikan Jepang di pasar Tanah Air terbilang melimpah. Pembeli disuguhkan berbagai pilihan dari merek ternama seperti Honda, Yamaha, Suzuki, hingga Kawasaki. Namun, di pasar motor bekas, kendaraan roda dua bermerek Suzuki sering kali dipersepsikan mengalami penurunan harga pasar (depresiasi) paling dalam jika dibandingkan dengan para pesaingnya. Perbedaan harga pasar antara Suzuki dan kompetitornya cukup terasa di jajaran skutik maupun motor bebek. Sebagai contoh, di segmen skutik entry level, unit bekas Suzuki Address umumnya dibanderol lebih murah sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 dibandingkan Honda BeAT pada tahun produksi yang sama. Ilustrasi Suzuki Address 125 Kondisi serupa terjadi pada segmen motor bebek. Penurunan nilai jual Suzuki Shogun bisa berselisih hingga Rp 2.000.000 jika disandingkan dengan Honda Supra X 125 keluaran tahun yang sederajat.Lantas, mengapa harga pasar sepeda motor bekas Suzuki cenderung sulit bertahan? Dibeli untuk Dipakai, Bukan Dijual Lagi Rudi, pemilik toko spesialis suku cadang Suzuki Sena Erajaya Agung, menilai bahwa konsumen sepeda motor Suzuki umumnya merupakan pembeli fanatik yang mengedepankan fungsi serta keandalan mesin. “Kebanyakan fanatik, yang tahu motor. Kadang-kadang orang cari yang simpel dan murah. Tapi yang awet, enggak trouble di jalan Suzuki harusnya,” ujar Rudi kepada Kompas.com belum lama ini. Suzuki Satria F150 2004 dan Satria Pro 2025 Rudi mengingatkan calon pemilik motor Suzuki untuk tidak berfokus pada nilai jual kembali (resale value), sebab tujuannya memang untuk penggunaan jangka panjang. “Tapi jangan pikir dijual lagi, karena harganya enggak bisa (bertahan). Soalnya kan orang cari motor ya buat dipakai, bukan dijual lagi. Cuma orang di sini kan kadang pikirnya berapa harga jual baliknya, padahal belum juga pakai,” kata Rudi. Depresiasi Tinggi, Kecuali Unit Koleksi Hal senada diungkapkan oleh Albi, pengguna yang mengoleksi beberapa unit sepeda motor Suzuki. Menurutnya, calon pembeli unit baru Suzuki harus bersiap menghadapi depresiasi harga yang cukup tajam ketika hendak menjualnya kembali. Tampilan standar Suzuki TS 125. TS 125 adalah motor trail lama yang sudah dihentikan produksinya tahun 2005. “Suzuki dijual lagi? Siap-siap depresiasinya hilang 60 persen dari harga beli. Kecuali yang sudah masuk collector item sesuai kondisi tentunya,” tutur Albi. Pengecualian harga jual ini memang berlaku bagi beberapa model legendaris Suzuki yang kini diburu para kolektor. Model dua tak (2-stroke) seperti Suzuki TS125, Satria "Lumba-lumba", hingga Satria "Hiu" justru mencatatkan harga yang meroket di bursa motor bekas. Minim Fitur Modern, tetapi Andal Dari sudut pandang pengguna harian, Fariz yang mengendarai Suzuki Address menyebutkan bahwa harga unit baru Suzuki terkesan kurang bersaing karena minimnya fitur modern jika dibandingkan dengan para rival di kelasnya. Modifikasi Shogun RR 125 di IMOS 2025 “Cuma memang kalau beli baru, harganya enggak masuk akal kalau dibandingkan kompetitor. Fiturnya masih tergolong jadul si Address, lampu full bohlam, kunci non-keyless, spidometer full analog,” ungkap Fariz. Kendati demikian, Fariz menganggap ketiadaan fitur rumit tersebut justru membuat daya tahan mesin dan harga bekas Suzuki Address relatif stabil di kelasnya. “Sebenarnya kalau enggak mikirin banget fitur-fitur model kekinian gitu, ya beli dan pakai Suzuki sih the best,” lanjutnya. Bagi konsumen yang mencari kendaraan operasional harian yang andal, durabel, dan minim masalah mesin, motor Suzuki bekas merupakan langkah yang rasional. Pembeli cukup mengesampingkan urusan harga jual kembali dan fokus mengoperasikan kendaraan untuk jangka panjang.