Di tengah ketatnya persaingan industri sepeda motor di Indonesia, Suzuki memiliki ceruk pasar dan basis penggemar yang tergolong loyal. Kendati angka penjualannya tak sebesar para pesaing utama, lini produk buatan pabrikan berlogo “S” ini kerap diasosiasikan dengan daya tahan komponen yang tangguh dan usia pakai yang panjang. Sensasi berkendara serta ketahanan mesin yang ditawarkan Suzuki membuat para pemiliknya enggan berpaling ke merek lain. Daya Tahan Mesin yang Bandel Rudi, salah satu karyawan di penyalur resmi suku cadang asli Suzuki Sena Erajaya Agung di Kebon Jeruk VII, Jakarta Barat, mengungkapkan bahwa konsumen yang sudah terbiasa dengan produk Suzuki umumnya sulit untuk berpindah hati. “Kalau tanya sama orang yang sudah pakai Suzuki, biasanya enggak mau pakai yang lain. Kebanyakan fanatik, yang tahu motor. Kadang-kadang orang cari yang simpel dan murah. Tapi yang awet, enggak ada masalah di jalan, Suzuki harusnya,” ujar Rudi kepada Kompas.com belum lama ini. Pandangan senada disampaikan oleh Albi, pengguna Suzuki Satria F150 yang juga pernah memelihara Shogun, Address, hingga motor dari pabrikan lain. Menurut Albi, keunggulan durabilitas Suzuki terasa nyata saat dibandingkan langsung dengan kompetitor di kelas sejenis. “Justru saya pakai produk kompetitor buat merasakan diferensiasinya. Antara Satria injeksi dan Sonic, pengalaman saya lebih durable Satria. Secara enggak langsung itu membuat image malas pakai produk lain muncul,” ucap Albi kepada Kompas.com. Ia menambahkan, ketahanan mesin Suzuki tergolong di atas rata-rata. Lini sepeda motor legendaris seperti Thunder, Smash, hingga Shogun dikenal tetap sanggup berjalan meski kondisi mesinnya sudah tidak ideal. Depresiasi Harga dan Tantangan Purna Jual Di balik ketangguhannya, Suzuki memiliki kelemahan yang kerap menjadi pertimbangan calon konsumen, yakni harga jual kembali (resale value) yang merosot tajam serta tantangan pada layanan purna jual (aftersales). Suzuki Satria F150 2004 dan Satria Pro 2025 Rudi menilai, calon pembeli di Indonesia sering kali terlalu memikirkan nilai jual kembali sebelum benar-benar merasakan fungsi kendaraan tersebut. “Tapi jangan pikir dijual lagi, karena harganya enggak bisa bertahan. Soalnya kan orang cari motor ya buat dipakai, bukan dijual lagi. Cuma orang di sini kan kadang pikirnya berapa harga jual baliknya, padahal belum juga pakai,” kata Rudi. Albi tak menampik hal tersebut. Menurut penjelasannya, depresiasi harga motor Suzuki di pasar bekas bisa berada di angka yang lumayan dalam. Cuci motor “Siap-siap depresiasinya hilang 60 persen dari harga beli, kecuali yang sudah masuk collector item yang harganya enggak masuk akal, sesuai kondisi tentunya,” kata Albi. Selain penurunan harga jual, urusan purna jual juga memerlukan kesabaran ekstra. Ketersediaan suku cadang tertentu serta keterbatasan jumlah mekanik di bengkel resmi sering kali memicu antrean panjang. “Kalau untuk aftersales memang agak mengesalkan. Part kadang susah, mekanik di bengkel cuma ada satu orang, antrean panjang walau cuma ganti oli saja,” kata Albi.