Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan Program Motor Listrik Nasional (Molinas) beserta ekosistem pendukungnya di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Peluncuran tersebut dilakukan di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group, produsen sepeda motor listrik lokal dengan merek ALVA. Pemerintah menempatkan Molinas bukan sekadar sebagai program untuk menghadirkan produk sepeda motor listrik baru, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri kendaraan listrik nasional. Dalam peluncurannya, Prabowo menekankan pentingnya membangun industri kendaraan listrik yang melibatkan kemampuan dan sumber daya dalam negeri. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat industri, teknologi, ketahanan energi, serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Namun, di balik peluncuran Molinas, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan, mulai dari kesesuaian produk dengan kebutuhan pengguna hingga akses masyarakat terhadap pembiayaan. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Motor Listrik Petani Sebelum Molinas resmi diluncurkan, Prabowo sudah menyampaikan rencana kehadiran motor listrik nasional. Saat menghadiri Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026), Prabowo mengatakan motor listrik nasional akan diluncurkan dalam beberapa pekan. "Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor. Motor listrik," kata Prabowo saat itu. Pernyataan tersebut kemudian memunculkan persepsi bahwa salah satu sasaran penggunaan motor listrik nasional adalah sektor pertanian. Pengamat EBT dan pegiat kendaraan listrik, Hendro Sutono, menilai, selain persoalan spesifikasi dan peruntukan kendaraan, aspek lain yang tidak kalah penting, yakni pembiayaan. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Tantangan Hendro mengatakan, pidato pejabat publik kerap memberikan harapan mengenai kemudahan pembiayaan kendaraan listrik. Mulai dari insentif fiskal yang berkelanjutan, skema kredit bunga rendah bahkan tanpa uang muka (DP 0 persen) yang didukung lembaga pembiayaan negara seperti Danantara, serta program tukar tambah (trade-in) motor bensin lama ke motor listrik baru. Tiga elemen inilah yang memang ditunggu oleh masyarakat bawah dan kalangan menengah untuk meruntuhkan tembok harga (price barrier) kendaraan listrik. Namun, menurut dia, kebijakan tersebut belum sepenuhnya terlihat dalam praktik di lapangan.