Pengembangan infrastruktur battery swap untuk sepeda motor listrik dinilai perlu mempertimbangkan pola permintaan pengguna. Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, pembangunan fasilitas penukaran baterai tidak harus dilakukan secara merata di seluruh wilayah. Menurut dia, infrastruktur sebaiknya lebih dulu diarahkan ke wilayah atau koridor yang memiliki tingkat penggunaan tinggi. Dengan begitu, fasilitas yang dibangun dapat memiliki tingkat utilisasi yang sesuai dengan kebutuhan. Alva N3 Next Gen jadi salah satu motor baru di IIMS 2026 "Infrastruktur swap juga jangan dibangun merata tanpa melihat permintaan. Prioritaskan koridor dengan utilisasi tinggi," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Hindari Ekosistem Tertutup Yannes juga menilai pengembangan battery swap perlu didukung interoperabilitas baterai. Artinya, baterai yang digunakan tidak hanya terikat pada satu merek sepeda motor atau satu jaringan penukaran baterai. Menurut dia, pendekatan yang hanya mengandalkan satu baterai, satu merek, dan satu kabinet berpotensi membuat masing-masing produsen membangun ekosistem yang tertutup. Baterai motor listrik Gova, bisa ditukar di SPBKLU minimarket "Jadi, Molinas membutuhkan interoperabilitas baterai dan multi-skema bisnis, bukan satu baterai, satu merek, satu kabinet, lalu masing-masing membangun ekosistem tertutup sendiri," kata Yannes. Interoperabilitas menjadi penting karena pengguna dapat memiliki kebutuhan yang berbeda. Pengguna dengan jarak tempuh tinggi, misalnya, akan lebih membutuhkan akses terhadap fasilitas swap dibandingkan pengguna yang hanya menempuh jarak pendek setiap hari. Karena itu, pembangunan infrastruktur dapat dimulai dari titik-titik yang memiliki potensi penggunaan tinggi. Setelah tingkat pemanfaatannya terbentuk, jaringan dapat dikembangkan mengikuti pertumbuhan kebutuhan.