Pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) mulai membuka ruang lebih besar bagi industri komponen dalam negeri, khususnya industri kecil dan menengah (IKM). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong IKM tidak hanya menjadi penonton, tetapi masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik roda dua. Langkah ini dinilai penting agar pengembangan kendaraan listrik tidak berhenti pada pertumbuhan penjualan produk jadi. Pemerintah ingin elektrifikasi kendaraan juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri sekaligus membuka lapangan kerja. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, IKM perlu dibina hingga mampu memenuhi standar sebagai pemasok industri besar. “Target kami bukan sekadar semakin banyak IKM yang mendapatkan pembinaan, tetapi juga memenuhi persyaratan industri, karena IKM harus mampu memenuhi kualifikasi sebagai pemasok, masuk ke dalam rantai pasok, dan pada akhirnya memperoleh pesanan secara berkelanjutan,” kata Agus, dikutip dari keterangan resmi (20/8/2026). Pabrik motor listrik Alva di Cikarang, Jawa Barat. Dua IKM Jadi Pemasok Komponen Molinas Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Dua IKM binaan Kemenperin, yakni PT Kannindo Metal Industri dan PT Multikon Rekatama Industri, telah masuk dalam ekosistem pendukung Molinas yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026 di Cikarang. Keduanya memproduksi komponen box baterai dan bracket baterai untuk Molinas Alva di bawah PT Electra Mobilitas Indonesia. Keterlibatan tersebut menunjukkan peluang IKM nasional untuk mengambil peran dalam rantai pasok kendaraan listrik, bukan hanya sebagai produsen komponen pendukung industri konvensional. Test ride motor listrik Alva N3 Pembinaan IKM Berbasis Kebutuhan Industri Kemenperin menggunakan pendekatan supplier development dalam mengembangkan IKM komponen kendaraan listrik. Kebutuhan industri besar dan original equipment manufacturer (OEM) menjadi titik awal dalam menentukan arah pembinaan. IKM potensial terlebih dahulu dipetakan, kemudian menjalani asesmen kesiapan pemasok. Penilaiannya mencakup teknologi, kualitas, kapasitas produksi, engineering, sertifikasi, produktivitas, biaya, hingga ketepatan pengiriman. Presiden Prabowo Subianto saat acara pluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). “Pembinaan IKM harus dimulai dari kebutuhan pasar. OEM dan Tier-1 menyampaikan kebutuhan serta standar yang harus dipenuhi, kemudian pemerintah melakukan pembinaan agar IKM mampu menutup kesenjangan tersebut melalui penguatan teknologi, SDM, kualitas produk, standardisasi, serta akses pengujian,” ujar Agus. Dengan pola tersebut, pengembangan Molinas diharapkan tidak hanya menghasilkan kendaraan listrik nasional, tetapi juga memperkuat fondasi industri komponen lokal dari hulu hingga hilir.