VIVA Otomotif: Ilustrasi pabrik mobil Mazda Akibatnya, harga mobil baru diperkirakan bakal ikut naik dalam beberapa waktu ke depan. Kenaikan ini berpotensi terjadi secara global, termasuk pada kendaraan bermesin konvensional maupun mobil listrik. GULIR UNTUK LANJUT BACA Menurut laporan Nikkei Asia dikutip VIVA Otomotif, Jumat 8 Mei 2026, harga aluminium di Jepang sudah melonjak lebih dari 20 persen sejak akhir Februari 2026. Salah satu penyebab utamanya adalah terganggunya jalur logistik di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting dunia yang selama ini menjadi penghubung utama perdagangan energi dan material industri.Selain hambatan distribusi, beberapa fasilitas peleburan aluminium di kawasan Timur Tengah juga dikabarkan mengalami kerusakan akibat konflik yang masih berlangsung. Situasi tersebut membuat pasokan material menjadi semakin terbatas.Padahal, aluminium saat ini menjadi salah satu bahan vital dalam industri otomotif modern. Material ini digunakan pada berbagai komponen kendaraan, seperti bodi, velg, struktur rangka, hingga baterai kendaraan listrik karena memiliki bobot ringan namun tetap kuat.Kenaikan harga aluminium otomatis membuat biaya produksi kendaraan ikut terdongkrak. Bahkan, harga paduan aluminium untuk kebutuhan mesin kini disebut mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.Bukan hanya aluminium, bahan baku lain juga mengalami kenaikan harga cukup signifikan. Produsen bahan kimia di Jepang dilaporkan telah menaikkan harga polietilen dan polipropilen hingga sekitar 30 persen. Material tersebut biasa digunakan untuk membuat dashboard, bumper, panel interior, dan berbagai komponen plastik lainnya.Di sisi lain, harga baja dan karet juga mulai naik. Produsen baja besar seperti Nippon Steel dan JFE Steel bahkan telah mengumumkan penyesuaian harga sekitar 10 persen mulai bulan ini.Tekanan terhadap industri otomotif semakin besar karena kenaikan biaya tidak hanya datang dari bahan baku. Ongkos logistik, listrik, hingga tenaga kerja juga ikut meningkat di banyak negara.Sejumlah analis memperkirakan jika kondisi pasokan global belum membaik dalam waktu dekat, produsen mobil kemungkinan akan mulai membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen. Harga mobil baru diprediksi bisa naik sekitar 600 dollar AS hingga 1.000 dollar AS per unit atau setara Rp 9,8 juta sampai Rp 16,4 juta.Mobil listrik yang selama ini dianggap sebagai solusi hemat energi juga tidak lepas dari ancaman kenaikan harga. Sebab, kendaraan listrik sangat bergantung pada material ringan seperti aluminium untuk menjaga efisiensi dan jarak tempuh baterai.Selain itu, berbagai komponen kendaraan listrik juga membutuhkan bahan berbasis petrokimia dan logam industri yang saat ini harganya sedang naik akibat gangguan rantai pasok global.Kondisi ini membuat industri otomotif dunia menghadapi tantangan baru setelah sebelumnya sempat dihantam krisis chip semikonduktor dan gangguan logistik pascapandemi. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, bukan tidak mungkin produksi kendaraan global akan kembali terganggu. Dampaknya bisa terasa mulai dari keterlambatan distribusi hingga kenaikan harga kendaraan di berbagai pasar, termasuk Asia Tenggara.Bagi konsumen, situasi ini bisa menjadi pertimbangan penting sebelum membeli mobil baru. Sebab, apabila biaya produksi terus naik, produsen kemungkinan besar akan melakukan penyesuaian harga secara bertahap mulai tahun depan.