Pertumbuhan industri otomotif nasional tidak hanya bergantung pada keberadaan pabrik Agen Pemegang Merek (APM) besar, melainkan juga kekuatan rantai pasok komponen di tingkat bawah. Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) menekankan pentingnya membina Industri Kecil dan Menengah (IKM) lokal agar mampu menjadi pemasok komponen tingkat tier 2, 3, hingga 4. Ketua Pengurus YDBA, Rahmat Samulo, menjelaskan bahwa industri otomotif yang kuat dan mandiri memerlukan struktur rantai pasok komponen yang berantai dan berjenjang. Tanpa penguatan IKM lokal pada tier bawah, industri nasional akan sangat bergantung pada subkomponen impor. Berbagai komponen mobil yang dibuat dari industri binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra Rantai Pasok Lokal Samulo mengungkapkan, pabrikan otomotif besar tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan pembuat komponen. Oleh karena itu, YDBA secara konsisten membina usaha kecil dan bengkel rumahan murni lokal agar mampu masuk ke dalam rantai pasok tersebut. "Industri otomotif itu tidak bisa hanya dibangun oleh pabrik seperti Toyota, Isuzu, BMW, atau UD Truck. Dia harus didukung oleh supply-nya, yaitu component maker yang berlapis dari tier 1 hingga tier 4," ujar Samulo di GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026). Dalam prosesnya, YDBA membentuk mentalitas para pelaku IKM dan mengajarkan standar Quality, Cost, Delivery (QCD). Ketika IKM lokal berhasil menembus pasokan ke tier 1 atau pabrikan utama, potensi volume produksi yang didapatkan sangat besar mengingat skala produksi kendaraan Astra yang mencapai jutaan unit per tahun. Berbagai komponen mobil yang dibuat dari industri binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra Capaian Rp 5 Triliun dan Tantangan Pembinaan Pembinaan yang berlangsung secara konsisten tersebut telah menunjukkan hasil konkret pada skala bisnis para pelaku usaha. Hingga saat ini, YDBA mencatat sekitar 400 IKM yang telah berhasil masuk ke dalam rantai pasok industri. Dari sekitar 400 perusahaan tersebut, lebih dari 1.700 jenis subkomponen otomotif berhasil dibuat. Bahkan berdasarkan data transaksi di 2025, tembus mencapai Rp 5 triliun per tahun. Penyerapan tenaga kerjanya juga sangat banyak. Bahkan satu IKM memiliki jumlah karyawan antara 50 sampai 200 orang, total lebih dari 30.000 orang. Meski demikian, Samulo menegaskan bahwa hasil tersebut dicapai melalui proses pembinaan panjang yang penuh tantangan. Pembinaan mental dan kedisiplinan standar kualitas membuat tidak sedikit pelaku UMKM yang gugur di tengah jalan. "Banyak suka dukanya, tidak segampang melihat hasil akhirnya. Ada yang di awal atau tengah jalan merasa berat memenuhi standar kualitas konsisten. Ini proses panjang puluhan tahun untuk membentuk struktur industri yang kuat," jelasnya.