Di tengah persaingan industri otomotif nasional yang kian ketat dan diwarnai perang harga dalam dua tahun terakhir, Subaru memilih menempuh jalur berbeda. Merek asal Jepang ini tetap menempatkan aspek manusia sebagai fondasi utama dalam pengembangan produk. Keselamatan, kenyamanan, dan durabilitas menjadi nilai yang terus dijaga, alih-alih sekadar mengejar fitur atau harga murah. Executive General Manager Subaru Indonesia, Adrian Quintano, mengatakan, filosofi Subaru sejak awal berangkat dari kebutuhan pengguna. “Pengembangan Subaru selalu tentang manusia. Mulai dari kebiasaan berkendara sampai kenyamanannya, supaya saat mengemudi pengguna merasa aman,” ujar Adrian kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026). Pendekatan tersebut diterapkan melalui berbagai detail, mulai dari posisi duduk, visibilitas, hingga karakter suspensi yang mendukung kenyamanan. Menurut Adrian, setiap elemen dirancang untuk menunjang rasa percaya diri pengemudi dalam penggunaan jangka panjang. Bagi Subaru, mobil bukan produk dengan siklus singkat. Setiap model diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi pemiliknya. Komitmen tersebut tercermin dari tingginya loyalitas konsumen Subaru secara global, khususnya di Amerika Serikat, dengan tingkat pembelian ulang di atas 60 persen. Di Indonesia, kecenderungan serupa mulai terlihat. Konsumen yang telah menggunakan Subaru umumnya kembali memilih merek yang sama. “Biasanya setelah coba satu, punya satu, akan nambah lagi,” ujarnya. Subaru Forester SPORT Edition GJAW 2024 Di tengah maraknya strategi banting harga, Subaru memilih tidak menjadikan diskon sebagai andalan utama. Perusahaan lebih mengedepankan kualitas produk dan pengalaman kepemilikan. Selain itu, Subaru juga selektif dalam mengadopsi teknologi. Inovasi yang diterapkan harus terbukti aman dan relevan. “Kalau belum proven, tidak akan kami gunakan,” tegas Adrian. Karena itu, Subaru juga tidak terburu-buru mengikuti tren elektrifikasi apabila dinilai berpotensi mengganggu karakter berkendara. General Manager Marketing, PR, and CRM Subaru Indonesia, Irhan Farhan, menyebut tantangan utama Subaru di Tanah Air adalah membangun pemahaman publik terhadap nilai merek. Menurutnya, kekuatan Subaru terletak pada fondasi teknologi yang berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan. “Mulai dari boxer engine, symmetrical AWD, hingga EyeSight. Semuanya untuk mendukung safety dan comfort,” jelasnya. Dalam pengembangan produk, Subaru disebut siap mengorbankan potensi penjualan demi menjaga karakter kendaraan. “Hybrid sempat diuji, tapi ternyata mengganggu handling dan safety,” kata Irhan. Subaru dinobatkan sebagai Best Car Brand versi Consumer Reports 2026 dengan skor keseluruhan 82, mengungguli sejumlah merek global ternama. Ia menegaskan, nilai Subaru bukan terletak pada kemewahan atau fitur berlebihan, melainkan rasa aman saat digunakan. “Teknologinya harus benar-benar reliable,” ujarnya. Penguatan citra Subaru di Indonesia juga didukung komunitas pengguna yang aktif dan loyal. “Mereka menjadi advocate bagi kami,” tutur Irhan. Melalui edukasi dan komunikasi yang konsisten, Subaru berharap nilai human-centric, keselamatan, dan durabilitas semakin dipahami konsumen. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang