Harga mobil Subaru kerap dinilai lebih tinggi dibandingkan merek Jepang lain di kelasnya. Fenomena tersebut ternyata disadari oleh mereka dan bukan tanpa alasan.Saat berkunjung ke redaksi detikcom, Subaru Indonesia menjelaskan bahwa ada filosofi dan pendekatan berbeda yang sejak awal menjadi pegangan pabrikan asal Jepang itu dalam mengembangkan produknya. Executive General Manager Subaru Indonesia, Adrian Quintano, mengatakan Subaru mengusung filosofi human centric dalam mendesain kendaraan.Artinya, manusia menjadi pusat dari seluruh proses pengembangan mobil, bukan semata-mata mengejar teknologi atau performa."Sebetulnya yang belum banyak orang tahu adalah value-nya Subaru itu. Ketika Subaru mendesain mobil, filosofinya adalah human centric. Pendekatannya itu manusia," ujar Adrian.Pendekatan tersebut diwujudkan secara serius, terutama dalam aspek keselamatan. Menurut Adrian, Subaru tidak hanya memikirkan keselamatan pengemudi dan penumpang, tetapi juga keselamatan pengguna jalan lain di sekitar kendaraan."Kalau kita bicara manusia, keselamatan itu bukan hanya keselamatan penumpang, keselamatan pengemudi, tapi keselamatan juga yang orang di sekitarnya. Pejalan kaki, pengendara mobil lain, pengendara motor. Itu yang benar-benar dipikirin sama Subaru," jelasnya.Filosofi tersebut juga membentuk karakter produk Subaru yang dikenal tahan lama. Adrian menyebut konsumen Subaru umumnya menggunakan mobilnya dalam jangka waktu panjang, bahkan hingga satu dekade, dan hingga kini masih banyak model lama Subaru yang tetap beroperasi di jalan."Mereka itu rata-rata menggunakan mobil cukup lama antara 5-10 tahun dan kalau kita lihat masih banyak Subaru yang lama-lama itu beredar di jalan," katanya.Adrian menegaskan, harga mobil Subaru yang relatif tinggi juga dipengaruhi oleh pendekatan pengembangan teknologi yang dilakukan secara mandiri.Subaru, menurutnya, mengembangkan banyak komponen penting secara in-house, termasuk sistem keselamatan hingga mesin.Subaru Indonesia dan jaringan diler resminya membuka Plaza Subaru Tebet. Diler 3S (sales, service, & spare part) ini menjadi yang kedua di Jakarta. Foto: Dok. Subaru Indonesia"Subaru ini memang 'agak laen'. Karena Subaru itu punya idealisme, kalau nggak aman buat manusia dia nggak akan bikin. Contohnya Subaru bikin semuanya in-house. EyeSight, ADAS-nya, itu dia bikin sendiri. Terus boxer engine juga, dan ketika mau bikin hybrid, hybrid-nya pun harus boxer engine. Nah itu yang bikin development-nya lama dan mahal juga," paparnya.Dengan pendekatan tersebut, Subaru tidak menjadikan harga murah sebagai tujuan utama.Bos Subaru Indonesia ini juga menyebutkan bahwa merek mereka sejak awal tidak mengejar kombinasi teknologi tercanggih dengan harga terendah, melainkan konsistensi terhadap idealisme keselamatan dan kualitas."Makanya mobil Subaru nggak ada yang murah. Karena semuanya mostly bikin sendiri. Jadi ya Subaru itu harganya juga cukup tinggi. Subaru itu memang nggak ngejar 'teknologi paling canggih, desain paling bagus, harga paling murah'. Itu bukan idealismenya Subaru," tutup Adrian.Dari laman resmi Subaru Indonesia, terlihat bahwa Subaru termurah yang saat ini dijual di Indonesia adalah Crosstrek dengan banderol Rp 579,5 jutaan.