Subaru Forester menjadi pilihan Rial Hamzah untuk menemani perjalanan jarak jauhnya bersama keluarga, melintasi Jakarta, Bali, Lombok, hingga Sumbawa, termasuk kawasan Gunung Tambora. Perjalanan lintas pulau tersebut dilakukan saat libur tahun baru dengan durasi sekitar dua pekan. Sepanjang perjalanan, Forester digunakan untuk berbagai kondisi jalan, mulai dari ruas tol, jalur pegunungan, hingga akses menuju kawasan wisata alam. “Dari Jakarta, lanjut ke Bali, Lombok, sampai Sumbawa. Muterin Tambora juga. Sekarang kilometernya sudah mau 10.000 Km,” ujar Rial kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026). Cerita Rial Hamzah Menggunakan Subaru Forester Perjalanan Jauh Bagi Rial, perjalanan tersebut menjadi pengalaman terjauh menggunakan Forester, sekaligus menguji kenyamanan dan kemampuan mobil untuk kebutuhan keluarga. Ia mengatakan, kebutuhan bepergian bersama keluarga menjadi alasan utama memilih mobil tersebut. Dengan konfigurasi dua orang dewasa dan dua anak, ruang kabin dinilai sangat lega termasuk baris ketiga. Visibilitas yang luas juga turut menunjang kenyamanan selama perjalanan. “Dipakai rame-rame masih nyaman. Posisi duduk enak di semua seat, pandangan juga luas,” kata dia. Karakter berkendara di jalan tol turut menjadi perhatian. Rial menilai Forester tetap terasa stabil saat melaju di kecepatan tinggi, sehingga perjalanan jarak jauh tidak cepat melelahkan. “Di tol yang renggang, 120 Kpj ke atas masih terasa aman.Enggak limbung, nggak bikin mual karena biasanya mobil dengan overland tinggi kan biasanya mulai goyang, ini masih stabil” ujarnya. Cerita Rial Hamzah Menggunakan Subaru Forester Rasa Percaya Diri Saat melintasi jalur pegunungan dan jalan dengan kondisi kurang baik, sistem penggerak all wheel drive (AWD) full-time disebut memberi rasa percaya diri. Rial mengaku jarang merasa khawatir ketika menghadapi tanjakan ekstrem atau permukaan licin. “Kalau ketemu tanjakan atau jalan licin, rasanya lebih pede,” kata Rial. Untuk menunjang kebutuhan perjalanan, Rial melakukan penyesuaian pada bagian kaki-kaki sejak awal pemakaian. Pelek standar diganti dengan ukuran lebih kecil, dipadukan dengan ban all terrain (AT). “Saya memang setiap beli mobil, pelek dan ban langsung diganti, termasuk Forester ini. Misalnya ukuran tadi pelek 18, saya turunin ke 17 dan pakai ban AT supaya lebih mumpuni dipakai di semua medan," ujarnya. "Tapi untuk lainnya, tidak ada ubahan, masih standar karena mempertimbangkan garansi juga," tambah Rial. Menurutnya, perubahan tersebut dilakukan agar mobil lebih nyaman digunakan di berbagai kondisi jalan, bukan sekadar untuk tampilan. Dalam perjalanan ke kawasan Tambora, Rial sempat menghadapi situasi cukup menantang saat mobil terjeblos di jalur berbatu. Beberapa roda sempat menggantung, sementara bumper depan mengalami goresan ringan. “Waktu itu sempat nyangkut, tapi akhirnya bisa keluar lagi,” ujarnya. Ia mengatakan, fitur X-Mode membantu saat kondisi tersebut terjadi. Namun, dalam penggunaan sehari-hari, fitur tersebut jarang aktif. “Semua perjalanan saya pakai mode biasa aja. Fitur X-Mode hanya saya pakai kalau memang diperlukan aja seperti kejadian nyangkut kemarin, itu untuk memudahkan keluar aja setelah itu mode normal lagi,” kata dia. Konsumsi BBM Dari sisi konsumsi bahan bakar, Rial menilai Forester masih tergolong wajar untuk penggunaan kombinasi kota, tol, dan pegunungan. Rata-rata konsumsi berada di kisaran 1:11 hingga 1:12 km per liter. “Kalau tol bisa 1:14. Rata-rata masih 1:11. Ini pakai ban AT loh, harusnya lebih boros,” katanya. Ia menambahkan, saat perjalanan ke daerah dengan keterbatasan BBM beroktan tinggi, mobil juga tetap bisa menggunakan bensin RON 92 tanpa kendala berarti. “Pernah pakai RON 92 juga karena kan di daerah ketersediaan BBM-nya tidak seberagam kota ya. Jadi kami terpaksa dan ternyata masih aman,” kata Rial. Suku Cadang Mahal Soal perawatan, Rial rutin melakukan servis berkala, termasuk mengganti oli setiap sekitar 5.000 kilometer. Program garansi juga menjadi salah satu faktor yang membuatnya lebih tenang dalam pemakaian jangka panjang. “Selama masih garansi, tinggal ikut jadwal servis aja,” ujarnya. Ia juga menilai ketersediaan suku cadang masih cukup terjaga, termasuk untuk Subaru lama yang pernah ia miliki. “Mobil saya yang 2012 aja masih bisa klaim recall. Part juga masih ada,” ujarnya. Meski begitu, Rial tak menampik Forester tetap memiliki kekurangan. Harga suku cadang disebut lebih mahal dibanding merek Jepang rakitan lokal. Selain itu, jaringan bengkel yang belum sebanyak merek besar juga perlu dipertimbangkan. Cerita Rial Hamzah Menggunakan Subaru Forester “Kalau dibanding Fortuner atau Toyota rakitan lokal, ya jelas lebih mahal. Tapi kalau sama produk yang diimpor dari Jepang langsung seperti Camry, masih sekelas,” katanya. Bukan Mobil Pasaran Ia juga mengakui, karakter Subaru yang cenderung niche membuat peminatnya tidak terlalu banyak. Hal ini berpengaruh pada persepsi soal resale value dan popularitas. “Bukan mobil pasaran. Tapi justru itu yang saya suka,” ujar Rial. Secara keseluruhan, Rial menilai Subaru Forester cocok bagi pengguna yang gemar bepergian jauh dan membutuhkan keseimbangan antara kenyamanan, stabilitas, dan kemampuan jelajah. “Buat saya, ini mobil semua medan. Mau tol, gunung, pantai, semua bisa. Selama masih jalan umum, bukannya dipakai untuk ekspedisi, Forester aman,” katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang