Subaru Forester baru saja menyandang predikat Japan Car of The Year 2025-2026. Membawa nama besar sebagai mobil terbaik di Jepang tahun ini. Namun, terdapat perbedaan versi dengan spek Indonesia. Di Jepang, Forester menggunakan mesin Boxer Hybrid sedangkan spek yang masuk ke Indonesia adalah mesin bensin murni. Saya berkesempatan menguji unit ini selama beberapa hari, tidak hanya mencoba di tengah padatnya lalu lintas Jakarta tapi juga mencicipi habitat aslinya di medan semi off-road. Subaru Forester Mesin Boxer 2.498 cc ini menghasilkan tenaga 185 PS atau setara 183 Tk dan torsi 247 Nm. Saat pedal gas diinjak, penyaluran tenaga terasa lebih linear dan berisi. Ketika berjalan dalam kecepatan normal kisaran 60-70 Kpj, Subaru Forester ini terasa stabil. Namun karena postur tubuhnya cukup tinggi sebagai SUV sejati, muncul gejala limbung saat melibas tikungan dalam kecepatan tinggi. Subaru Forester Guna mendukung aktivitas off-road, mobil ini telah dilengkapi dengan sistem X-Mode. Saat melaju, X-Mode mengordinasikan mesin, transmisi, sistem Symmetrical AWD, dan rem untuk memaksimalkan traksi pada permukaan yang licin atau tidak rata.Selain itu fitur ini bisa aktif pada kecepatan di bawah 40 Kpj melalui layar sentuh di head unit. Singkatnya, sistem ini akan mengoptimalkan respons pedal gas agar penyaluran tenaga lebih bertahap untuk mencegah ban spin atau berputar di tempat misalnya saat melewati lumpur dan tanah. Subaru Forester X-Mode juga tetap mempertahankan mobil di gigi rendah supaya mesin punya tenaga dorong yang besar. Hasilnya mobil jadi lebih bertenaga untuk merayap keluar dari lumpur atau di jalan licin. Kemudian, sistem pengereman akan bekerja secara aktif pada roda yang kehilangan traksi. Dan secara otomatis mengalihkan distribusi tenaga ke roda yang masih memiliki cengkeraman ke permukaan jalan. Subaru Forester Selain mode Off-Road (X-mode), juga terdapat SI Drive, yaitu mode S (Sport) dan I (Intelegent). X-mode lebih fokus ke Off-Road, sementara SI Drive fokus pada gaya mengemudi di jalan raya atau aspal. Adapun ketika menggunakan mode I, yang merupakan mode standar rasanya lebih pas digunakan di perkotaan. Impresinya lembut, halus, dan efisien. Sedangkan saat membutuhkan tenaga yang lebih, Anda dapat menggunakan mode S. Tarikannya menjadi lebih bertenaga, responsif, dan gesit. Subaru Forester Bicara soal posisi duduk, Subaru melengkapi joknya dengan Ergonomic Medical Seats yang didesain bersama ahli medis Jepang. Posisi panggul ditopang dengan maksimal, tetapi bagian badan terasa kurang dipeluk, baik jok pengemudi maupun penumpang. Namun demikian, pengaturan joknya cukup fleksibel karena sudah elektrik. Berikut ini adalah video disaat saya mencoba mobil ini, di jalan raya dan juga tentu menjajal jalanan semi Off-Road. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang