Biaya kepemilikan mobil Subaru kerap menjadi pertimbangan banyak konsumen, terutama karena statusnya sebagai produk impor dari Jepang yang identik dengan harga dan perawatan mahal. Namun, pengalaman Rial Hamzah justru menunjukkan hal berbeda. Menggunakan Subaru Forester untuk perjalanan jarak jauh lintas pulau, mulai dari Jakarta, Bali, Lombok, hingga Sumbawa, ia menilai biaya kepemilikan mobil tersebut masih tergolong terjangkau. Perjalanan tersebut dilakukan saat libur tahun baru dengan durasi sekitar dua pekan dan menempuh berbagai kondisi jalan, mulai dari tol, jalur pegunungan, hingga akses menuju kawasan Gunung Tambora. Cerita Rial Hamzah Menggunakan Subaru Forester “Dari Jakarta, lanjut ke Bali, Lombok, sampai Sumbawa. Muterin Tambora juga. Sekarang kilometernya sudah mau 10.000 Km,” ujar Rial kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026). Perjalanan tersebut sekaligus menjadi ajang tidak langsung pembuktian soal konsumsi bahan bakar dan biaya operasional Forester. Dengan mesin 2.0 liter dan sistem penggerak AWD, rata-rata konsumsinya berada di 1:10 hingga 1:12 kilometer per liter (Kpl). "Itu untuk rute kombinasi ya. Jalanan tol, rute perkotaan, sampai pegunungan. Kalau di tol bisa 1:14 (Kpl),” kata Rial. Ia menambahkan, angka tersebut dicapai meski mobil sudah menggunakan ban all-terrain (AT) dengan ukuran lebih besar dari standar, yang secara teori berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar. “Ini pakai ban AT loh, harusnya lebih boros,” ujarnya. Dalam kondisi tertentu, Forester juga tetap bisa menggunakan bensin RON 92 saat berada di daerah dengan keterbatasan pasokan BBM beroktan tinggi. “Pernah pakai RON 92 juga karena mendesak, di daerah susah cari RON 95. Tapi sejauh ini masih aman,” kata Rial. Subaru Forester Hybrid Dari sisi perawatan, ia rutin melakukan servis berkala, termasuk penggantian oli setiap 5.000 kilometer. Meski jadwal resmi pabrikan berada di interval berbeda, kebiasaan tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi mesin. “Kalau saya, tiap 5.000 kilometer ganti oli aja,” ujarnya. Program garansi menjadi salah satu faktor yang membuat biaya perawatan relatif terkendali. Forester miliknya masih dilindungi garansi hingga lima tahun atau 180.000 kilometer. “Selama masih garansi, tinggal pakai dan servis rutin aja,” kata dia. Terkait suku cadang, Rial menilai ketersediaannya relatif aman di bengkel resmi. Bahkan, untuk Subaru lama yang pernah ia miliki, layanan purna jual masih berjalan. “Mobil saya yang 2012 aja masih bisa klaim recall. Part juga masih ada,” ujarnya. Meski demikian, ia mengakui harga suku cadang Subaru umumnya lebih tinggi dibandingkan merek Jepang lainnya yang sudah dirakit lokal. Hal tersebut perlu menjadi pertimbangan bagi calon konsumen. “Kalau dibanding Fortuner atau Toyota rakitan lokal, jelas lebih mahal. Tapi kalau sama model yang masih impor langsung dari Jepang, seperti Camry, masih sekelas,” katanya. Plaza Subaru Bandung "Ibaratnya, filter oli masih Rp 100.000-an, kampas rem masih sekitar Rp 1,1 juta sampai Rp 1,6 jutaan untuk satu set, jadi menurut saya sih masih terjangkau," lanjut dia. Secara keseluruhan, Rial menilai stigma mahal terhadap mobil Subaru tak sepenuhnya terbukti dalam pengalamannya. Dengan penggunaan yang wajar dan perawatan teratur, biaya kepemilikan Forester masih tergolong rasional. “Memang masih banyak yang menganggap konsumsi BBM atau komponen Subaru itu menguras kantong. Kalau model lama, mungkin ada benarnya tetapi setelah saya pakai Forester baru ini, sebenarnya enggak sih. Tapi kembali lagi kepada subjektivitas masing-masing," kata Rial. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang