Pernahkah Anda terpikir, berapa banyak komponen penyusun yang dibutuhkan agar sebuah mobil bisa berjalan dan berfungsi dengan baik? Di balik satu unit kendaraan, terdapat hingga 25.000 komponen penyusun. Mulai dari komponen kecil, seperti baut, sensor, dan konektor, hingga sistem besar, seperti transmisi dan perangkat keselamatan. Ribuan komponen itu mencerminkan hal penting. Industri otomotif pada dasarnya adalah industri ekosistem karena kinerja pabrikan kendaraan sangat bergantung pada kekuatan rantai pasok. Menurut Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), produksi satu kendaraan melibatkan jaringan rantai pasok yang luas, bahkan ditopang sekitar 4.000 perusahaan dalam ekosistem rantai pasok otomotif. Di Indonesia, ekosistem tersebut bertumbuh dalam lintasan yang panjang. Empat dekade lalu, banyak komponen masih bergantung pada impor. Kini, basis manufaktur tidak hanya mengisi kebutuhan produksi dalam negeri, tetapi juga mulai lebih percaya diri masuk ke rantai pasok global lewat ekspor kendaraan dan komponen. Industri otomotif dibangun dari rantai pasok komponen Jejak perubahan itu salah satunya berangkat dari kebijakan lokalisasi yang mendorong tumbuhnya pemasok domestik. an, pemerintah mendorong peningkatan kandungan lokal pada kendaraan melalui program Kendaraan Bermotor Niaga Sederhana (KBNS). Bahkan, kala itu, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Perindustrian Nomor 307 Tahun 1976 tentang Lokalisasi Komponen serta SK Nomor 167 Tahun 1979 tentang Percepatan Lokalisasi Komponen dengan Cara Penanggalan (Deletion Program). Kebijakan tersebut pun mendorong pembentukan basis pemasok dalam negeri. Pasalnya, pabrikan kendaraan membutuhkan komponen lokal agar produksi bisa berjalan lebih efisien dan sejalan dengan arahan penguatan industri. Berangkat dari fase awal itu, rantai pasok turut berkembang bertahap, mulai dari perakitan menuju manufaktur komponen dengan tingkat kompleksitas yang terus naik. Ekosistem industri komponen Indonesia makin padat dan berlapis Ukuran industri komponen lokal bisa dibaca dari besarnya ekosistem pemasok. Diberitakan Kompas.com, Kamis (4/9/2025), GIAMM menaungi sekitar 250 perusahaan komponen yang sebagian besar berskala kecil hingga menengah. Sementara itu, jumlah pemasok otomotif di Indonesia mencapai lebih dari 1.500 perusahaan. Data GIAMM juga mencatat, sektor otomotif menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja, serta kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) manufaktur sekitar 8 persen. Angka-angka itu menegaskan bahwa penguatan industri komponen bukan sekadar isu teknis pabrikan, melainkan juga berkaitan dengan struktur ekonomi manufaktur. Karena itu, pembacaan daya saing industri otomotif tidak cukup hanya melihat penjualan domestik. Indikator lain yang makin sering dipakai adalah ekspor, baik kendaraan utuh maupun komponen. Kenaikan angka ekspor Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, ekspor kendaraan buatan Indonesia pada 2025 menguat. Sepanjang Januari–Desember 2025, ekspor mobil dalam keadaan utuh (completely built-up/CBU) tercatat 518.212 unit. Angka ini naik jika dibandingkan 2024 yang berada di 472.194 unit. Secara tahunan, pertumbuhan ekspor kendaraan CBU sekitar 9,7 persen. Bagi industri komponen, penguatan ekspor CBU penting karena menandakan kebutuhan pasokan yang stabil, termasuk untuk memenuhi standar kualitas dan ketepatan produksi yang diminta pasar ekspor. Jika ditarik ke konteks industri domestik, data Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian yang dirilis pada Juli 2025, menunjukkan bahwa pada 2024, produksi kendaraan roda empat mencapai 1.196.464 unit, sementara wholesales berada di 865.723 unit. Ilustrasi ekspor mobil Data itu memberikan konteks bahwa ekspor menjadi salah satu penopang, terutama ketika pasar domestik mengalami fase penyesuaian. Kenaikan ekspor tidak hanya terjadi pada kendaraan utuh. Ekspor kendaraan dalam bentuk completely knocked down (CKD) pada 2025 tercatat 63.263 set. Pada 2024, ekspor CKD berada di 46.311 set. Artinya, ekspor CKD tumbuh sekitar 36,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kombinasi kenaikan ekspor CBU dan CKD memperlihatkan bahwa Indonesia kian diperhitungkan sebagai basis produksi. Pada level rantai pasok, penguatan itu umumnya berjalan seiring dengan kebutuhan komponen yang konsisten, perbaikan efisiensi, serta tuntutan standardisasi proses produksi. Ekspor komponen 2025 turun secara volume, tapi nilai diproyeksi naik Daya saing industri komponen kendaraan tidak berhenti pada kendaraan utuh. Industri ini memiliki dinamika tersendiri, termasuk perbedaan cara membaca performa lewat volume dan nilai. Gaikindo mencatat, ekspor komponen otomotif pada 2025 berada di 141.912.643 pieces. Pada 2024, ekspor komponen berada di 153.075.695 pieces. Secara volume, terdapat penurunan sekitar 7,3 persen. Meski begitu, volume bukan satu-satunya ukuran untuk membaca kekuatan industri komponen. Dalam paparan GIAMM pada Juli 2025, nilai ekspor komponen Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 7,5 miliar dollar AS, sementara impor komponen sekitar 6,9 miliar dollar AS. Data tersebut menunjukkan bahwa komponen Indonesia tak hanya mengisi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga aktif bermain di pasar global. Dari sisi tujuan, ekspor komponen Indonesia menjangkau lebih dari 100 negara. Negara tujuan terbesarnya, antara lain Jepang (sekitar 1,7 miliar dollar AS), China (sekitar 1,3 miliar dollar AS), Thailand (sekitar 1,4 miliar dollar AS), serta Malaysia (sekitar 0,84 miliar dollar AS), disusul Korea dan Amerika Serikat. Komposisi barang yang diekspor juga memperlihatkan spektrum yang luas. Berdasarkan data GIAMM, beberapa komoditas utama yang diekspor, antara lain ban mobil baru, wiring set/sets kabel kendaraan, serta suku cadang dan aksesori sepeda motor. Di sisi impor, komponen tertentu masih dominan masuk ke Indonesia, seperti electric accumulator/baterai, suku cadang dan aksesori kendaraan, hingga komponen transmisi. GIAMM memproyeksikan nilai ekspor komponen otomotif pada 2025 tumbuh sekitar 6 persen menjadi lebih dari 8 miliar dollar AS. Angka ini mengalami peningkatan jika dibandingkan 2024 yang mencapai sekitar 7,5 miliar dollar AS. Perbedaan arah antara volume yang turun dan nilai yang meningkat bisa terjadi karena perubahan komposisi produk ekspor. Pasalnya, komponen bernilai tinggi dapat menaikkan nilai ekspor, meskipun secara jumlah tidak bertambah. Selain itu, permintaan global yang berubah juga dapat memengaruhi jenis komponen yang diekspor. Data GIAMM juga menyebutkan bahwa Indonesia sudah menjadi net eksportir komponen otomotif sejak 2015. Sementara itu, pada 2024, neraca perdagangan komponen otomotif tercatat surplus 677 juta dollar AS. Pabrikan lokal jadi jangkar Di tengah ekosistem itu, pabrikan besar kerap berperan sebagai “jangkar” yang menjaga disiplin kualitas dan efisiensi rantai pasok. Toyota, misalnya, membangun basis manufaktur komponen sejak awal melalui pendirian PT Toyota-Mobilindo (1976) untuk bodi dan PT Toyota-Engine Indonesia (1982) untuk mesin. Di level pemasok, Toyota menempatkan pemasok lokal sebagai mitra strategis. Sekitar 80 persen komponen kendaraan Toyota di Indonesia berasal dari pemasok dalam negeri yang memenuhi standar "The Toyota Way" dan "Toyota Production System". Contoh konkretnya ada pada pola pembinaan. Melalui asosiasi supplier komponen Toyota, Toyota Manufacturers Club (TMClub), Toyota rutin membina ratusan pemasok lewat pelatihan dan Kaizen Festival. Selain itu, Toyota juga menjalankan program Jishuken untuk melatih penerapan "Just in Time" dan "Jidoka" langsung di pabrik pemasok dengan pendampingan tenaga ahli Toyota. Dengan begitu, budaya efisiensi dan kendali kualitas khas Toyota terbentuk hingga tingkat rantai pasok. Contoh pembinaan itu menggambarkan upaya pabrikan otomotif besar dalam mendorong kualitas pemasok. Tantangan industri komponen menuju era kendaraan elektrifikasi Namun, tantangan industri komponen tidak berhenti pada pembinaan proses produksi. GIAMM menilai kedalaman lokalisasi Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Data GIAMM yang dipaparkan pada Juli 2025 menyebut, rantai pasok lokal memiliki kontribusi sekitar 55 persen, sementara nilai kendaraan sebagian besar ditentukan oleh part dan komponen sehingga porsi sisanya masih bergantung pada impor. Ketergantungan itu terutama terasa pada komponen bernilai tambah tinggi. GIAMM menyoroti kelemahan Indonesia pada komponen berteknologi tinggi seperti elektronik, sistem keselamatan, infotainment/komunikasi, serta ketersediaan bahan baku. Tekanan juga datang dari sisi pasar dan iklim investasi. Masih dari paparan yang sama, GIAMM menyebut, pasar otomotif Indonesia mengalami penurunan selama empat tahun berturut-turut yang berdampak ke lebih dari 1.500 rantai pasok, serta menurunkan daya tarik investasi. Pada saat yang sama, GIAMM mengingatkan bahwa tren impor CBU bisa meningkat dalam konteks kebijakan kendaraan listrik tertentu. Hal ini dinilai tidak memberi manfaat bagi local supply chain. Masuknya era elektrifikasi turut membuat peta tantangan makin jelas. Pada kendaraan listrik baik hybrid electric vehicle (HEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan battery electric vehicle (BEV), komponen kunci, seperti baterai, power control unit (PCU), dan motor listrik menjadi penentu. Menurut catatan GIAMM, pada fase awal, industri EV di Indonesia masih didominasi komponen impor CBU sehingga penyerapan komponen lokal masih minim. Oleh karena itu, GIAMM mendorong dua jalur upaya. Untuk jangka pendek, diperlukan stimulus permintaan, seperti skema PPnBM/PPN-DTP yang dikaitkan dengan “true local content” tertentu untuk menjaga roda produksi dan utilisasi pemasok. Untuk jangka lebih panjang, GIAMM menilai, Indonesia perlu memperkuat insentif investasi agar teknologi connected, autonomous, shared, and electric (CASE) atau elektrifikasi masuk dan dilokalisasi, serta menargetkan “true local content” naik menjadi 80 persen dari sekitar 55 persen selama periode program low carbon emission vehicle (LCEV). Artinya, kebijakan insentif idealnya tidak hanya mengejar pertumbuhan penjualan jangka pendek, tetapi juga mengikatnya dengan penguatan rantai pasok lokal agar manfaatnya kembali ke industri komponen domestik.