MGS5 EV Senior Vice President MG Motor Indonesia, Jimmy Zhang, menilai perkembangan pasar otomotif Tanah Air saat ini menunjukkan arah yang semakin beragam. Tidak hanya kendaraan listrik yang tumbuh, tetapi juga model elektrifikasi lain mulai mendapat perhatian. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Kalau melihat pasar Indonesia, setelah banyak brand global masuk beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2023, pilihan produk jadi semakin luas. EV berkembang, tapi hybrid dan PHEV juga mulai diperkenalkan dan diminati,” ujar Jimmy di Bandung, Jawa Barat, Rabu 6 Mei 2026.Menurut dia, pola tersebut memiliki kemiripan dengan pasar China, yang lebih dulu mengalami percepatan elektrifikasi. Meski penetrasi kendaraan listrik di negara tersebut sangat tinggi, model PHEV tetap mencatat kontribusi penjualan signifikan, bahkan terus berkembang dengan teknologi baterai yang lebih besar.“Di China, EV memang sudah sangat tinggi, tapi PHEV juga sangat kuat. Bahkan sekarang banyak brand menghadirkan hybrid dengan kapasitas baterai lebih besar. Ini bisa menjadi gambaran bagaimana pasar Indonesia akan berkembang,” kata dia.Jimmy menjelaskan, kondisi geografis dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting yang membuat Indonesia tidak bisa langsung beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik. Ketersediaan stasiun pengisian daya, harga kendaraan, hingga daya beli masyarakat masih menjadi tantangan yang harus diatasi secara bertahap.Dalam situasi tersebut, kehadiran teknologi hybrid dan PHEV dinilai menjadi solusi transisi yang relevan. Hybrid menawarkan efisiensi tanpa bergantung pada pengisian listrik, sementara PHEV memberikan fleksibilitas dengan kombinasi mesin konvensional dan motor listrik yang bisa diisi ulang.MG sendiri, lanjut Jimmy, tetap menjadikan kendaraan listrik sebagai fokus utama dalam pengembangan produk. Namun, perusahaan juga membuka peluang untuk masuk ke segmen hybrid dan PHEV guna menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.“Sebagai brand, kami harus kompetitif dan memberikan pilihan terbaik bagi konsumen. Karena itu, kami juga melihat kemungkinan untuk masuk ke HEV dan PHEV, tidak hanya EV,” ujarnya.Selain itu, kendaraan bermesin konvensional juga masih memiliki tempat di pasar Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa. Permintaan terhadap model ICE MG, seperti MG HS dan MG ZS, disebut masih cukup tinggi di sejumlah daerah.“Di beberapa wilayah seperti Makassar, minat terhadap kendaraan ICE masih konsisten. Ini menunjukkan bahwa transisi tidak bisa terjadi secara seragam di seluruh Indonesia,” tutur dia. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dengan kondisi tersebut, pendekatan multi teknologi menjadi langkah realistis dalam mendorong transisi energi di sektor otomotif nasional. Alih-alih memaksakan satu jenis teknologi, strategi ini memungkinkan konsumen beradaptasi secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.Ke depan, sinergi antara produsen otomotif, pemerintah, serta pengembangan infrastruktur akan menjadi kunci dalam mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan di Indonesia, tanpa mengabaikan dinamika pasar yang ada.