Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai tidak hanya berdampak pada sektor energi dan logistik global, tetapi juga berpotensi memengaruhi kinerja ekspor industri otomotif Indonesia. Pengamat otomotif sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan, gangguan pada jalur pelayaran internasional dapat menimbulkan dampak langsung terhadap distribusi kendaraan dari Indonesia ke berbagai negara tujuan. Menurut dia, salah satu jalur strategis yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz. Kawasan tersebut merupakan rute penting perdagangan global, termasuk untuk distribusi energi dan berbagai komoditas industri. Ekspor mobil Toyota Yannes mengatakan, dari sisi ekspor, jika ini berkepanjangan, maka Indonesia bisa kehilangan akses langsung ke sekitar 5,4 persen pangsa pasar ekspornya. "Sekitaran 28.000 unit, khususnya ke Arab Saudi dan UEA, akibat risiko keamanan dan blokade maritim di selat Hormuz tersebut," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Ia menjelaskan, potensi gangguan tersebut terutama terkait dengan meningkatnya risiko keamanan bagi kapal-kapal logistik yang melintas di kawasan tersebut. Seremoni 3 juta unit ekspor mobil Toyota ke dunia "Sedangkan untuk pasar besar lainnya, seperti pasar ASEAN dan Amerika Latin, walaupun jalurnya tetap aman, bakal terjadi kenaikan biaya distribusi dan juga premi asuransi maritim yang pada ujungnya dapat membuat landed cost kendaraan di negara tujuan meningkat," kata Yannes. Menurut Yannes, peningkatan biaya distribusi tersebut dapat berdampak pada harga akhir kendaraan di negara tujuan ekspor. Yannes menambahkan, hal ini berisiko menurunkan daya saing produk Indonesia dibandingkan kompetitor lokal atau regional yang memiliki struktur biaya lebih efisien. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang