Rem blong masih menjadi penyebab sebagian besar kecelakaan truk di Indonesia. Menurut Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan, rem blong adalah penyebab kecelakaan truk paling konyol. Sebab di negara-negara lain sangat jarang terjadi."Terkait rem blong, penyebabnya cuma dua. Pertama, kesalahan pengemudi menggunakan transmisi di jalanan menurun. Kedua, adanya malfunction (gagal fungsi) atau kebocoran pada sistem rem. Sehingga dapat saya katakan sebenarnya kecelakaan rem blong di Indonesia itu kecelakaan konyol yang nggak perlu terjadi," bilang Wildan dalam diskusi yang digelar Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) di arena GIICOMVEC 2026, JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Rem blong sering jadi penyebab kecelakaan truk di Indonesia Foto: dok. IstimewaDijelaskan Wildan, di negara-negara maju sangat jarang terjadi insiden kecelakaan truk yang disebabkan kegagalan fungsi rem. "Di Amerika dalam setahun itu paling ya sekali aja (kecelakaan truk karena) rem blong. Di Jepang, dalam lima tahun, kejadian rem blong hanya sekali. Di kita itu bisa 5.000 kali dalam setahun. Ini ada masalah dengan kita?," terang Wildan.Tingginya tingkat kecelakaan truk di Indonesia karena rem blong, artinya ada sesuatu yang harus diperbaiki. "Saya pernah ketemu dengan pemilik kendaraan yang punya kendaraan dalam jumlah banyak, kita latih pengemudinya, kita latih reflek dengan benar, kita latih cara menggunakan transmisi, pemahaman torsi, bagaimana rpm kapan kamu pakai," tambahnya lagi.Mirisnya, diketahui ternyata dari sisi pemeliharaan kendaraan, tidak sesuai dengan ketentuan pabrikan. Terjadi efisiensi besar-besaran dari sisi manajemen pemeliharaan. Belum lagi bicara soal efisiensi bahan bakar."Jadi yang setahun biasanya Rp 3 miliar (untuk pemeliharaan), itu bisa turun hingga hanya Rp 900-an juta, nggak sampai Rp 1 miliar. Efisiensinya Rp 2 miliar sendiri. Itu belum dihitung dari BBM (bahan bakar minyak). BBM-nya juga terdapat efisiensi yang tinggi. Artinya di sini peran dari pengemudi sangat penting," ungkap Wildan.