Di tengah tekanan ekonomi global yang mengalami kontraksi, kinerja industri manufaktur Indonesia justru menunjukkan ketahanan dan daya saing yang kuat. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu basis produksi penting bagi pabrikan global, khususnya di sektor otomotif yang terus memperlihatkan tren ekspansif. Hal ini seiring dengan pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas yang mencapai 5,54 persen, dengan kontribusi meningkat menjadi 17,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Wamenperin Faisol Riza di Jakarta, Kamis (8/5/2025). Namun, tingkat utilisasi industri nonmigas masih berada pada 59,2 persen, menunjukkan masih besarnya ruang bagi industri nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat perannya dalam rantai pasok global. “Dengan IKI (Indeks Kepercayaan Industri) Oktober 2025 di angka 53,5 dan PMI 51,2, industri kita berada dalam fase ekspansi. Ruang utilisasi yang besar membuat peluang pertumbuhan masih sangat luas,” ujar Faisol di Cikarang, Jawa Barat, Selasa (18/11/2025). Subsektor manufaktur nonmigas menjadi motor penggerak ekonomi dengan kontribusi investasi mencapai Rp 185,4 triliun atau hampir 38 persen dari total investasi nasional. Penyerapan tenaga kerjanya pun tinggi, mencapai lebih dari 20,3 juta pekerja. Faisol menyebut konsistensi ini sebagai bukti bahwa Indonesia tetap dilirik investor meski kondisi global penuh ketidakpastian. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Dalam konteks industri alat angkut, Indonesia telah membangun fondasi kuat sebagai pusat manufaktur. Saat ini terdapat 39 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 2,39 juta unit. September 2025 saja, produksi mobil nasional mencapai sekitar 850.000 unit. Menariknya, 45 persen dari produksi tersebut terserap pasar global melalui ekspor completely built up (CBU). Hal ini menjadikan Indonesia salah satu basis produksi utama bagi produsen otomotif global. Ekspor Suzuki "Industri kendaraan roda dua dan tiga juga mencatat produksi 5,25 juta unit dengan ekspor 0,41 juta unit pada periode yang sama," kata dia. “Tingginya porsi ekspor kendaraan bermotor memperlihatkan bahwa Indonesia masih menjadi basis produksi penting, meskipun ekonomi dunia sedang mengalami kontraksi,” ujar Faisol. Faisol menyampaikan bahwa keberlanjutan ekspor dan peningkatan daya saing ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur alat transportasi, khususnya di Asia. Dengan basis industri yang kuat, dukungan ekosistem lokal, serta investasi yang terus mengalir, Indonesia tetap menjadi simpul penting rantai pasok global. “Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kawasan dan global. Dalam konteks ini, industri manufaktur kita menjadi mitra strategis dalam memperbesar nilai tambah dan memperkuat daya saing ekspor,” ucap dia. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.