China memperketat pembatasan ekspor sejumlah produk strategis ke Jepang, termasuk material yang berpotensi digunakan untuk kepentingan militer. Kebijakan tersebut berisiko mengganggu rantai pasok global, terutama bagi industri otomotif Jepang yang masih sangat bergantung pada pasokan logam tanah jarang dari China. Beijing juga tengah mengkaji pengetatan ekspor rare earth kategori menengah dan berat. Ini berpotensi memberi tekanan signifikan bagi manufaktur Jepang, mengingat sekitar 70 persen kebutuhan logam tanah jarang negara tersebut masih dipasok dari China. Ilustrasi tambang. Ilustrasi logam tanah jarang atau rare earth. Gangguan pasokan dinilai dapat langsung memukul basis industri Jepang. Penurunan ketersediaan material berisiko menguras stok, menekan produksi barang bernilai tinggi, serta berdampak ke pasar global yang bergantung pada komponen buatan Jepang. Risiko tersebut sebelumnya sudah dirasakan sektor otomotif. Saat China menerapkan prosedur baru ekspor rare earth, Suzuki Motor sempat menghentikan produksi Swift akibat keterbatasan pasokan material penting. Analis Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Seiji Sugiura, menilai industri otomotif berada dalam posisi rentan, bergantung pada merek dan model, pembatasan bahan baku berpotensi memaksa pabrikan menghentikan operasional pabrik. "Produksi pada industri mobil akan menghadapi tantangan yang signifikan," katanya dikutip Reuters, Rabu (7/1/2026). Perusahaan dagang Jepang pun mulai mengantisipasi dampak lanjutan, termasuk Mitsubishi. Perseroan menyatakan tengah memantau detail kebijakan baru China dan menilai potensi pengaruhnya terhadap bisnis dan aktivitas usahanya. China adalah penguasa rare earth, sementara logam tanah jarang di Indonesia berada di Bangka Belitung dan Kalbar. Rare earth sendiri berperan penting dalam produksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga komponen industri. Unsur menengah dan berat seperti dysprosium dan yttrium menjadi krusial untuk menjaga performa motor pada suhu tinggi. China saat ini menguasai lebih dari 90 persen kapasitas pemurnian rare earth global. Menurut Data Japan Organization for Metals and Energy Security menunjukkan, meski Jepang berhasil menurunkan ketergantungan impor sejak 2009, rantai pasok unsur menengah dan berat masih terpusat di China. Ekonom Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi, memperkirakan gangguan ekspor rare earth selama tiga bulan dapat menimbulkan kerugian hingga 660 miliar yen dan memangkas sekitar 0,11 persen produk domestik bruto Jepang. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang