Banyaknya penutupan diler mobil merek Jepang di Indonesia menjadi indikasi kuat terjadinya pergeseran besar di industri otomotif nasional. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk lebih aktif menjaga iklim usaha agar tetap sehat, di tengah persaingan yang semakin ketat, khususnya dengan agresivitas merek asal China. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu menilai, diperlukan kebijakan yang terintegrasi agar pelaku industri tidak menghadapi ketidakpastian. PT Honda Prospect Motor (HPM) kembali memperluas jaringan dengan meresmikan dua diler mobil berkas bersertifikasi, yakni Honda Bintang Solo Used Car di Kota Surakarta dan Honda Solo Baru Used Car di Kabupaten Sukoharjo. “Pemerintah harus memberikan perhatian utama pada harmonisasi regulasi lintas kementerian agar semua regulasi bisa saling bersinergi,” kata Yannes dihubungi pada Sabtu (18/4/2026). “Kemudian pemerintah juga perlu menjaga stabilitas suku bunga dan daya beli masyarakat agar pasar otomotif tidak terus tertekan oleh inflasi pangan dan pelemahan kelas menengah,” ujarnya. Menurut Yannes, penutupan diler tidak bisa dilepaskan dari perubahan cepat di industri, terutama seiring pergeseran menuju kendaraan elektrifikasi. “Tampaknya fenomena banyak diler mobil Jepang tutup dan digantikan oleh merek China adalah sinyal kuat pergeseran pasar yang cepat akibat perubahan cepat regulasi dan persaingan harga ya,” kata dia. Ia menjelaskan, dominasi mobil Jepang kini mendapat tekanan dari produk China yang menawarkan harga lebih kompetitif, desain modern, serta fitur yang lebih lengkap. Selain itu, pabrikan China dinilai lebih cepat menghadirkan teknologi ramah lingkungan, khususnya kendaraan listrik murni yang semakin diminati konsumen. “Perubahan regulasi mendadak juga meningkatkan biaya compliance sehingga diler Jepang kehilangan margin dan konsumen beralih ke merek China yang lebih agresif ya,” ujarnya. Ilustrasi diler Jaecoo Melihat kondisi tersebut, Yannes menilai produsen Jepang perlu segera menyesuaikan strategi agar tetap relevan di pasar Indonesia. “Jepang jelas perlu menyusun ulang model kerjasamanya dan perlu memperkuat jaringan after-sales setiap produknya. Jepang juga perlu segera investasi di EV lokal,” katanya. Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian turut menyoroti dinamika persaingan industri otomotif nasional yang kian kompleks. merek mobil asal China secara agresif dinilai menjadi tantangan bagi produsen Jepang, seiring perubahan preferensi konsumen. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat bergantung pada kemampuan pelaku industri membaca kebutuhan pasar. “Semuanya ini kan berkaitan dengan market. Jadi dia harus bisa menyesuaikan apa yang menjadi keinginan market,” ujar Agus. Ia menjelaskan, kebijakan pemerintah saat ini mengarah pada percepatan adopsi kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. “Produsen Jepang juga harus bisa mulai melihat, mulai membaca bahwa kebijakan kita akan lebih cepat shifting kepada penggunaan mobil-mobil berbasis EV,” jelasnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang