Fenomena tutupnya sejumlah diler mobil asal Jepang dalam setahun terakhir mulai menjadi perhatian di industri otomotif nasional. Pergeseran ini tidak hanya mencerminkan tekanan bisnis yang semakin besar, tetapi juga perubahan arah pasar yang kini mulai condong ke kendaraan listrik (EV) dan produk dengan value lebih tinggi. Di tengah situasi tersebut, sebagian jaringan diler memilih beradaptasi dengan beralih menjual merek lain, terutama dari China. Ilustrasi pameran otomotif. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk tetap bertahan di tengah kompetisi yang semakin ketat dan preferensi konsumen yang berubah. Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana, Andee Yoestong, menilai bahwa salah satu penyebab utama melemahnya diler merek Jepang adalah portofolio produk yang kurang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini. “Mereka keluarnya unit-unit yang tidak favorit. Sekarang kan orang semua merujuk ke EV,” ujar Andee di Jakarta (16/4/2026). BYD Atto 1 IIMS 2026 “(Produsen harus punya mobil dengan) harga murah, fitur bagus. Kalau mereka pertahankan yang lama, ya enggak jalan,” kata dia. Menurut Andee, pasar otomotif Indonesia kini menuntut kombinasi harga kompetitif dan fitur yang menarik, dua hal yang dinilai semakin agresif ditawarkan oleh merek-merek asal China, terutama di segmen kendaraan listrik. Tak hanya itu, keputusan diler untuk beralih merek juga didasarkan pada pertimbangan yang matang. Khususnya terkait komitmen investasi dan keberlanjutan bisnis dari prinsipal. Diler Chery di Karawaci, Tangerang. “Pabrik pertama harus ada. Kalau dia enggak ada pabrik, kan anytime dia tutup kita mati. Jadi harus benar-benar lah mereka serius investasi di Indonesia,” ujarnya. Kehadiran pabrik di dalam negeri menjadi faktor krusial, karena menunjukkan keseriusan merek dalam membangun pasar jangka panjang. Bagi diler, hal ini juga menjadi jaminan keberlangsungan bisnis, mulai dari pasokan unit hingga layanan purnajual. Perakitan Geely EX5 di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM). Fenomena ini sekaligus menggambarkan perubahan besar dalam lanskap industri otomotif Indonesia. Dominasi merek Jepang yang selama puluhan tahun kuat, kini mulai mendapat tantangan serius dari pemain baru yang lebih agresif, khususnya di segmen EV. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang