Kehadiran Changan di Indonesia kini identik dengan kendaraan elektrifikasi. Langkah awal pabrikan otomotif asal China ini ditandai dengan peluncuran dua model andalan, yakni mobil listrik mungil Lumin serta SUV listrik Deepal S07. Namun, fokus pada mobil listrik bukan berarti pabrikan ini menutup pintu bagi teknologi konvensional. Langkah strategis Changan di pasar Tanah Air tampaknya akan lebih dinamis, dengan mempertimbangkan berbagai opsi teknologi yang relevan dengan kebutuhan konsumen lokal. Untuk diketahui, Changan merupakan salah satu raksasa otomotif global dengan sejarah yang sangat panjang. Perusahaan ini sudah berdiri sejak 164 tahun yang lalu, tepatnya pada 1862. Dengan pengalaman lebih dari satu abad, kapasitas Changan dalam memproduksi kendaraan, baik mesin pembakaran internal (ICE) maupun elektrifikasi, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Changan Deepal Eado Meski saat ini masyarakat mulai melabeli Changan sebagai produsen mobil listrik murni, persepsi tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan portofolio mereka secara global. Faktanya, di negara asalnya, Changan memiliki jajaran produk yang sangat luas, mulai dari mobil bermesin bensin hingga teknologi hybrid yang canggih. Pada sisi lain, Changan juga menyadari tantangan riil yang dihadapi pasar Indonesia. Dengan kondisi infrastruktur pengisian daya listrik yang belum merata hingga ke pelosok daerah, konsumen di luar kota besar tentu akan berpikir dua kali sebelum beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik. Faktor kenyamanan penggunaan dan kemudahan dalam pengisian bahan bakar menjadi pertimbangan utama bagi konsumen di banyak wilayah di Indonesia. Changan, melalui kolaborasi strategis dengan Indomobil Group, terus melakukan pemetaan mendalam terkait perilaku konsumen ini. Changan Lumin Keputusan untuk membawa produk baru, baik itu ICE murni maupun teknologi hybrid, akan didasarkan pada hasil studi pasar yang berkelanjutan. Hal ini penting agar produk yang ditawarkan benar-benar menjawab kebutuhan dan daya beli masyarakat Indonesia. CEO Changan Indonesia Setiawan Surya mengatakan, pihaknya tidak hanya fokus pada mobil listrik berbasis baterai sepenuhnya. Pihaknya kini tengah mengevaluasi potensi pasar untuk segmen lain, termasuk ICE dan teknologi hybrid yang lebih efisien. Deepal S05 REEV "Itu juga dalam kita punya radar. Jadi, kita juga lagi pelajari, termasuk yang tadi kan Blue Core HEV. Ya, kita lagi coba pelajari juga," ujar Setiawan, kepada wartawan, saat ditemui di Chongqing, China, belum lama ini. Dengan pernyataan ini, pintu bagi kehadiran mobil bermesin konvensional maupun hybrid dari Changan di Indonesia masih terbuka lebar. Strategi ini menunjukkan bahwa Changan berupaya untuk tidak sekadar ikut tren elektrifikasi, tetapi juga menjadi pemain yang adaptif terhadap kondisi pasar otomotif nasional yang sangat beragam. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang