JAKARTA, KOMPAS.com - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran belakangan ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait krisis energi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini membuat masyarakat semakin mempertimbangkan kendaraan yang hemat biaya operasional. Di Indonesia, pilihan mobil irit umumnya mengerucut pada segmen Low Cost Green Car (LCGC) seperti Toyota Agya. Namun, kehadiran mobil listrik murah seperti BYD Atto 1 mulai menjadi alternatif baru. Lantas, bagaimana perbandingan biaya “adu irit” di atas kertas antara keduanya? Hitung-hitungan BYD Atto 1 BYD Atto 1 tersedia dalam dua varian. Varian Dynamic dibekali baterai 30,08 kWh dengan jarak tempuh hingga 300 km, sedangkan varian Premium menggunakan baterai 38,88 kWh dengan jarak tempuh 380 km. Berdasarkan pengujian redaksi, konsumsi daya mobil ini mencapai sekitar 8,5 km per kWh. Artinya, untuk menempuh 100 km, dibutuhkan sekitar 11,76 kWh listrik. Jika menggunakan tarif listrik rumah tangga non-subsidi dengan harga Rp 1.400–Rp 1.700 per kWh, maka biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 16.400 – Rp 20.000 untuk menempuh 100 km. Sedangkan jika mengisi di SPKLU yaitu mode fast charging dengan tarif sekitar Rp 2.466 per kWh, maka butuh sekitar Rp 29.000 untuk menempuh 100 km. Toyota Agya di GJAW 2025 Hitung-hitungan Toyota Agya Pada sisi lain, Toyota Agya sebagai mobil LCGC tetap menjadi andalan karena dikenal irit BBM. Mobil ini dibekali mesin 1.200 cc 3 silinder yang efisien untuk penggunaan harian. Berdasarkan pengujian dalam kota yang pernah dilakukan redaksi dengan kondisi lalu lintas padat, konsumsi BBM Agya tercatat sekitar 12,6 km per liter. Artinya, untuk menempuh 100 km, dibutuhkan sekitar 7,9 liter bensin. Hitungan di atas kertas, jika menggunakan Pertalite dengan harga Rp 10.000 per liter, maka biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 79.000 untuk menempuh 100 km. Mesin Toyota Agya GR Sport Sedangkan jika menggunakan Pertamax dengan harga sekitar Rp 12.300 per liter (wilayah Jabodetabek, April 2026), maka biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 97.000 untuk 100 km. Siapa Lebih Irit? Secara hitungan di atas kertas, biaya operasional BYD Atto 1 memang lebih rendah dibanding Toyota Agya, terutama jika pengisian dilakukan di rumah. Perlu diingat bahwa angka tersebut bisa berbeda tergantung berbagai faktor, seperti kondisi lalu lintas, gaya berkendara, beban kendaraan, hingga tarif listrik atau harga BBM di masing-masing daerah. Selain itu, mobil listrik dan mobil bensin juga memiliki karakter penggunaan yang berbeda. Toyota Agya GR Sport di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 Mobil listrik cenderung lebih efisien untuk penggunaan dalam kota, sementara mobil bensin masih unggul dalam hal kemudahan pengisian bahan bakar dan fleksibilitas perjalanan jauh. Kesimpulan Baik BYD Atto 1 maupun Toyota Agya memiliki keunggulan masing-masing di segmen mobil terjangkau dan irit. Bagi konsumen yang mengutamakan biaya energi lebih murah, mobil listrik bisa menjadi pilihan menarik. Namun, bagi yang menginginkan kemudahan dan fleksibilitas, mobil LCGC seperti Agya masih relevan. Dengan kondisi global yang belum menentu, memilih kendaraan hemat kini bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga strategi mengatur pengeluaran. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang