Perbandingan biaya kepemilikan antara mobil listrik dan mobil bermesin bensin semakin menarik untuk dibahas. Salah satu yang bisa menjadi gambaran adalah duel antara BYD Atto 3 dan Hyundai Creta facelift. BYD Atto 3 Dari sisi efisiensi energi, BYD Atto 3 mencatatkan konsumsi 6,49 Km per kWh. Mengacu pada tarif pengisian di SPKLU sebesar Rp 2.466 per kWh sesuai regulasi Kementerian ESDM, kebutuhan energi untuk jarak 80.000 Km atau sekitar lima tahun mencapai 12.326 kWh. Bila dikalkulasikan, total biaya pengisian daya selama lima tahun mencapai Rp 30.397.534, atau sekitar Rp 6.079.506 per tahun. Angka ini menjadi salah satu keunggulan utama mobil listrik yang menawarkan biaya operasional lebih rendah. Hyundai CRETA. Selain itu, biaya perawatan Atto 3 juga relatif ringan. Pabrikan memberikan gratis servis hingga 60.000 Km atau empat tahun. Setelah itu, hingga 80.000 Km, total biaya yang perlu dikeluarkan hanya Rp 1.586.477, atau sekitar Rp 317.295 per tahun. Dari sisi pajak, mobil listrik juga mendapat insentif. Pemilik Atto 3 hanya perlu membayar komponen seperti SWDKLLJ dan PNBP. Total pajak selama lima tahun mencapai Rp 1.365.000, atau sekitar Rp 273.000 per tahun. Kalau ditotal, biaya kepemilikan BYD Atto 3 selama lima tahun berada di angka Rp 33.349.011. Artinya, pemilik hanya perlu menyiapkan sekitar Rp 6,6 juta per tahun atau Rp 555.900 per bulan. BYD Atto 3 Hyundai Creta Sebaliknya, Hyundai Creta facelift masih bergantung pada bahan bakar fosil. Konsumsi BBM tercatat 8,8 Km per liter untuk penggunaan dalam kota. Dalam lima tahun atau 100.000 Km, kebutuhan bahan bakar mencapai 11.363 liter. Dengan asumsi harga Pertamax Rp 12.500 per liter, total biaya BBM selama lima tahun mencapai Rp 142.037.500. Angka ini menjadi komponen biaya terbesar dalam kepemilikan mobil bensin. Dari sisi pajak, Creta memiliki Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sekitar Rp 5.754.000 per tahun, atau Rp 28.770.000 selama lima tahun. Sementara biaya perawatan relatif terjangkau karena ada gratis servis hingga 60.000 Km, dengan tambahan biaya sekitar Rp 3.451.856 hingga 100.000 Km. Hyundai Creta Facelift Jika seluruh komponen dijumlahkan, total biaya kepemilikan Hyundai Creta facelift selama lima tahun mencapai Rp 174.259.356. Rata-rata per tahun sebesar Rp 34.851.871, atau sekitar Rp 2,9 juta per bulan. Bila dibandingkan secara langsung, selisih biaya kepemilikan kedua model ini sangat mencolok. Total biaya BYD Atto 3 hanya sekitar Rp 33,3 juta dalam lima tahun atau per tahun sekitar Rp 6,6 juta. Sedangkan Hyundai Creta mencapai Rp 174,2 juta atau per tahun sekitar Rp 34 jutaan. Artinya, ada perbedaan yang sangat signifikan, yang sebagian besar berasal dari biaya bahan bakar dan pajak kendaraan bermesin bensin. Perbandingan ini menunjukkan bahwa mobil listrik menawarkan efisiensi biaya yang jauh lebih unggul dalam jangka panjang. Dengan struktur biaya yang lebih rendah, terutama dari sisi energi dan pajak, BYD Atto 3 menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang mengutamakan efisiensi penggunaan harian. Namun demikian, mobil bensin sepertinya masih akan menjadi pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Apalagi, jika melihat infrastruktur sekarang yang belum merata. Masyarakat yang tinggal di daerah atau di kota-kota kecil akan lebih mengandalkan bahan bakar minyak. Mobil listrik maupun mobil bensin sama-sama dibatasi jarak tempuh. Tapi, SPBU cenderung masih lebih mudah ditemui dibandingkan SPKLU. Sehingga, faktor biaya tidak selamanya menjadi penentu masyarakat dalam memilih kendaraan. Khususnya, kendaraan yang digunakan untuk harian. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang