Uji tabrak BYD Perkembangan teknologi bantuan mengemudi atau Advanced Driver Assistance System (ADAS) semakin pesat, termasuk fitur autopilot yang kini mulai jadi tren. Namun di balik kecanggihannya, selalu ada satu pertanyaan besar yang muncul: siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan saat fitur tersebut aktif? Produsen mobil listrik asal China, BYD, mencoba menjawab pertanyaan itu dengan langkah yang tidak biasa. Perusahaan tersebut mengumumkan akan menanggung seluruh kerugian finansial akibat kecelakaan yang disebabkan oleh sistem bantuan mengemudi miliknya saat digunakan sesuai ketentuan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Kebijakan tersebut berlaku untuk sistem God’s Eye A dan God’s Eye B yang digunakan pada sejumlah model BYD di China. Jika kendaraan mengalami kecelakaan dan pengemudi dinyatakan tidak bersalah karena sistem yang sedang aktif melakukan kesalahan, BYD siap menanggung biaya yang menjadi tanggung jawab kendaraan tersebut.Cakupan perlindungannya tidak hanya terbatas pada kerusakan mobil pemilik, tetapi juga meliputi kerugian pihak ketiga, kerusakan properti, hingga biaya terkait cedera yang timbul akibat kecelakaan.Yang menarik, disadur VIVA Otomotif dari Electrek, Selasa 2 Juni 2026, BYD tidak menetapkan batas maksimal nilai ganti rugi. Selain itu, pemilik kendaraan juga tidak diwajibkan membeli asuransi khusus tambahan untuk mendapatkan perlindungan tersebut.Kebijakan ini menjadi sorotan karena berbeda dengan pendekatan yang selama ini digunakan oleh sebagian besar produsen otomotif, termasuk Tesla. Pada sistem Full Self-Driving (FSD) milik Tesla yang saat ini masih berstatus Level 2, tanggung jawab tetap berada di tangan pengemudi meskipun fitur bantuan mengemudi sedang aktif.Artinya, pengemudi tetap harus memantau kondisi jalan dan siap mengambil alih kendali kapan saja. Jika terjadi kecelakaan, tanggung jawab hukum umumnya masih berada pada pengguna kendaraan.BYD menilai langkah tersebut sebagai bentuk kepercayaan terhadap kemampuan teknologi yang mereka kembangkan. Perusahaan bahkan menyebut keputusan mengambil tanggung jawab lebih besar sejak tahap Level 2 sebagai bukti keyakinan terhadap sistem bantuan mengemudi yang dimiliki.Sebelumnya, BYD juga pernah menerapkan kebijakan serupa untuk fitur parkir otomatis tingkat lanjut. Menurut perusahaan, langkah itu berhasil meningkatkan tingkat penggunaan fitur secara signifikan karena konsumen merasa lebih percaya diri untuk mengaktifkannya. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Selain menawarkan perlindungan tambahan, BYD juga mengklaim telah memiliki lebih dari 3 juta kendaraan yang menggunakan teknologi bantuan mengemudi di jalan raya. Armada tersebut disebut menghasilkan ratusan juta kilometer data perjalanan setiap hari yang digunakan untuk terus menyempurnakan sistem.Langkah BYD ini dinilai berpotensi mengubah cara pandang industri terhadap teknologi kendaraan pintar. Selama ini, produsen mobil berlomba menawarkan fitur yang semakin mendekati kemampuan mengemudi otomatis, tetapi tanggung jawab saat terjadi kecelakaan sebagian besar tetap dibebankan kepada pengguna.