Persaingan mobil keluarga berteknologi elektrifikasi di Indonesia memasuki babak baru. Setelah Toyota lebih dulu menghadirkan Veloz Hybrid rakitan lokal, BYD langsung meramaikan segmen tersebut lewat M6 DM yang menjadi model plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) pertama mereka di pasar nasional. Meski baru memulai distribusi pada Juni 2026, M6 DM langsung mencatatkan penjualan wholesales 1.825 unit. Toyota Veloz Hybrid EV Lintas Nusa 2.0 Sulawesi Angka ini memang belum mampu melampaui Veloz Hybrid yang membukukan 2.698 unit pada periode sama, tetapi menjadi debut yang cukup menjanjikan untuk model yang masih berstatus impor utuh (CBU) dari China. Di sisi lain, Veloz Hybrid diproduksi secara lokal oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Keunggulan produksi dalam negeri membuat pasokan model ini relatif lebih stabil, sekaligus memperkuat posisinya di pasar MPV elektrifikasi. Veloz Hybrid Masih Memimpin Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Toyota mulai mendistribusikan Veloz Hybrid pada Maret 2026. Sejak saat itu, penjualannya konsisten berada di atas 2.000 unit per bulan. Berikut catatan wholesales Toyota Veloz Hybrid: Maret 2026: 2.325 unit Mei 2026: 2.378 unit Juni 2026: 2.698 unit Dalam tiga bulan distribusi, total wholesales Veloz Hybrid telah mencapai 7.401 unit. Sementara BYD M6 DM langsung mencatatkan 1.825 unit pada bulan pertama distribusinya. Dengan kata lain, volume penjualannya sudah mencapai sekitar 68 persen dari capaian Veloz Hybrid pada Juni. Meski demikian, perlu dicatat bahwa kedua model berada pada fase yang berbeda. Veloz Hybrid telah dipasarkan lebih dahulu dengan dukungan produksi lokal, sedangkan M6 DM masih mengandalkan pasokan impor. BYD M6 DM. Perbedaan Konsep Hybrid sama mengusung teknologi elektrifikasi, pendekatan yang digunakan kedua MPV ini cukup berbeda. Toyota Veloz Hybrid mengandalkan Toyota Hybrid System (THS) dengan mesin bensin 1.500 cc Atkinson Cycle yang dipadukan motor listrik. Seluruh sistem bekerja otomatis tanpa membutuhkan pengisian daya dari luar, sehingga pengguna cukup mengisi bahan bakar seperti mobil konvensional. Sementara, BYD M6 DM menggunakan teknologi Dual Mode (DM) Plug-in Hybrid. Dalam kondisi baterai penuh, motor listrik menjadi penggerak utama sehingga karakter berkendaranya lebih menyerupai mobil listrik murni. Mesin bensin baru bekerja sebagai generator. Efisiensi Jadi Nilai Jual BYD mengklaim M6 DM mampu mencatat konsumsi bahan bakar hingga sekitar 65 km/liter dalam kondisi ideal, dengan jarak tempuh gabungan lebih dari 1.600 km ketika baterai dan tangki bensin terisi penuh. Sementara itu, Toyota mengklaim konsumsi BBM Veloz Hybrid mencapai 28,9 km/liter pada penggunaan kombinasi. Dalam pengujian di lapangan, angkanya dapat berada di kisaran 24-35,5 km/liter, tergantung kondisi lalu lintas, beban kendaraan, dan gaya mengemudi. Namun, karakter efisiensi kedua mobil tidak bisa dibandingkan secara langsung. Pada sistem PHEV, konsumsi bahan bakar sangat dipengaruhi frekuensi pengisian baterai. Semakin sering baterai diisi, semakin sedikit bensin yang digunakan. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Produksi Lokal Modal Toyota Masuknya BYD M6 DM membuktikan bahwa pasar MPV elektrifikasi Indonesia semakin kompetitif. Meski demikian, untuk saat ini Toyota masih memegang keunggulan dari sisi volume penjualan maupun kesiapan produksi. Status Veloz Hybrid sebagai produk lokal memberi keuntungan dalam menjaga ketersediaan unit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. Sebaliknya, capaian 1.825 unit pada bulan pertama menunjukkan M6 DM memiliki potensi besar sebagai penantang baru, terlebih jika BYD nantinya mulai merakit model tersebut di Indonesia.