Kehadiran mobil listrik dengan banderol di bawah Rp 200 juta mulai meramaikan pasar otomotif Indonesia. Salah satunya adalah Wuling Aira EV yang resmi meluncur pada ajang GIIAS 2026 dengan harga mulai Rp 155 juta. Munculnya produk di segmen harga terjangkau dinilai semakin membuka akses masyarakat terhadap kendaraan listrik. Namun, PT BYD Motor Indonesia menegaskan tidak akan terpancing untuk bersaing lewat perang harga. Head of PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan, semakin banyak pilihan mobil listrik justru menjadi perkembangan positif bagi industri otomotif nasional. Ilustrasi Wuling Aira EV di GIIAS 2026 Kehadiran Mobil Listrik Murah Menurut Luther, kehadiran berbagai model baru, termasuk yang menyasar segmen sensitif harga, menjadi bukti bahwa pasar kendaraan listrik di Indonesia semakin berkembang. tama kami cukup senang semakin banyak produk EV yang diperkenalkan ke masyarakat. Artinya semakin banyak pilihan bagi konsumen untuk memilih kendaraan listrik yang sesuai," ujar Luther di ICE BSD City, Tangerang (3/8/2026). Ia menambahkan, kehadiran mobil listrik murah juga membantu menghapus anggapan bahwa kendaraan listrik selalu identik dengan harga mahal. Changan Lumin Meski demikian, BYD menilai konsumen saat ini sudah semakin matang dalam menentukan pilihan. Karena itu, harga bukan lagi menjadi satu-satunya faktor yang dipertimbangkan saat membeli mobil listrik. BYD Pilih Adu Kualitas dan Layanan Luther mengatakan, strategi BYD bukan mengikuti perang harga, melainkan memperkuat faktor-faktor fundamental yang dibutuhkan konsumen dalam jangka panjang. "Yang menjadi perhatian sekarang kita kembalikan lagi ke konsumen. Harusnya konsumen sekarang lebih dewasa dalam memilih kendaraan, tidak hanya dari sisi harga, tetapi juga melihat sustainability bisnis, posisi merek, serta komitmen after sales dan jaringan," kata Luther. BYD Atto 1 di GIIAS 2026 Menurut dia, BYD telah membangun fondasi bisnis melalui jaringan diler, layanan purna jual, hingga basis manufaktur di Indonesia. Hal tersebut diyakini memberikan rasa aman bagi konsumen yang ingin memiliki mobil listrik untuk penggunaan jangka panjang. "Jadi kami tidak masuk ke konteks perang harga atau adu harga. Kami lebih memilih bersaing dari sisi kualitas, jaringan, sustainability, dan manufacture base, sehingga memberikan kepastian kepada konsumen karena ini adalah investasi jangka panjang," ujarnya.