Mobil listrik menawarkan cara berbeda dalam menghemat biaya penggunaan harian. Tidak lagi mengandalkan bensin, biaya energi kendaraan dihitung berdasarkan konsumsi listrik yang digunakan untuk mengisi baterai. Salah satu mobil listrik yang bermain di harga terjangkau adalah BYD Atto 1. Di sisi lain, konsumen yang masih ingin menggunakan mobil bermesin bensin bisa mempertimbangkan Honda Brio Satya yang masuk segmen low cost green car (LCGC). Keduanya sama-sama punya dimensi yang ringkas dan ditujukan untuk penggunaan perkotaan. Namun, bagaimana jika biaya energi untuk keduanya dibandingkan dengan jarak tempuh yang sama? Untuk melihat perbedaannya, digunakan asumsi pemakaian 60 km per hari selama 30 hari. Biaya listrik BYD Atto 1 Berdasarkan pengujian redaksi, konsumsi daya BYD Atto 1 tercatat sekitar 8,5 km/kWh. Dengan jarak tempuh 60 km, maka kebutuhan listriknya sekitar 7,06 kWh per hari. Jika pengisian dilakukan di rumah menggunakan tarif listrik sekitar Rp 1.444 per kWh, maka biaya energi yang dibutuhkan untuk menempuh 60 km sekitar Rp 10.193 per hari. BYD Atto 1 di IIMS 2026 Jika digunakan setiap hari selama 30 hari, total kebutuhan listrik mencapai sekitar 211,76 kWh per bulan. Dengan tarif listrik yang sama, biaya pengisian di rumah menjadi sekitar Rp 305.788 per bulan. Angka tersebut merupakan biaya energi berdasarkan konsumsi listrik kendaraan. Dalam penggunaan sebenarnya, biaya bisa sedikit berbeda tergantung efisiensi pengisian, kondisi baterai, penggunaan AC, kondisi lalu lintas, hingga gaya berkendara. Kalau isi daya Atto 1 di SPKLU? Bagaimana jika pengisian BYD Atto 1 dilakukan melalui Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)? Dengan asumsi tarif pengisian sekitar Rp 2.400 sampai Rp 2.500 per kWh, kebutuhan energi sebesar 7,06 kWh untuk menempuh 60 km membuat biaya hariannya sekitar Rp 16.941 sampai Rp 17.647. Jika digunakan selama 30 hari, total biaya pengisian menjadi sekitar Rp 508.235 sampai Rp 529.412 per bulan. Artinya, meski sama-sama menggunakan listrik, biaya pengisian melalui SPKLU tetap lebih tinggi dibandingkan pengisian di rumah. Biaya BBM Honda Brio Satya Sementara itu, Honda Brio Satya masih mengandalkan mesin bensin 1.200 cc yang menghasilkan tenaga sekitar 90 TK dan torsi 110 Nm. Karakter utamanya ringan dan efisien untuk penggunaan harian di perkotaan. Konsumsi BBM Brio cukup variatif, berada di kisaran 16 km per liter hingga 20 km per liter. Honda Brio Satya di IIMS 2023 Sebagai simulasi yang sama, digunakan jarak tempuh 60 km per hari. Dengan konsumsi 16 km per liter, Brio membutuhkan sekitar 3,75 liter bensin per hari. Jika digunakan setiap hari selama 30 hari, total konsumsi mencapai 112,5 liter per bulan. Jika menggunakan Pertalite Rp 10.000 per liter, biaya bahan bakarnya mencapai sekitar Rp 1,125 juta per bulan. Sementara jika menggunakan Pertamax Rp 15.950 per liter, biaya yang harus dikeluarkan menjadi sekitar Rp 1,794 juta per bulan. Sementara pada konsumsi 20 km per liter, kebutuhan BBM turun menjadi sekitar 3 liter per hari atau 90 liter per bulan. Dengan Pertalite, biaya bulanannya sekitar Rp 900.000. Sedangkan menggunakan Pertamax, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 1,436 juta per bulan. Selisih biaya Atto 1 dan Brio Satya Jika dibandingkan dengan skenario konsumsi Brio Satya sebesar 16 km per liter, maka biaya energi BYD Atto 1 yang diisi di rumah mencapai sekitar Rp 305.788 per bulan. Artinya, ada selisih sekitar Rp 819.212 per bulan dibandingkan Brio yang menggunakan Pertalite. Jika Brio menggunakan Pertamax, maka selisihnya lebih besar, yakni sekitar Rp 1,489 juta per bulan. Sementara jika konsumsi Brio berada di angka 20 km per liter, biaya BBM per bulan sekitar Rp 900.000 untuk Pertalite dan Rp 1,436 juta untuk Pertamax. Dengan begitu, pengisian Atto 1 di rumah memberikan selisih sekitar Rp 594.212 sampai Rp 1,130 juta per bulan, tergantung jenis BBM dan konsumsi Brio yang digunakan. Bagaimana jika Atto 1 seluruhnya diisi melalui SPKLU? Dengan biaya sekitar Rp 508.235 sampai Rp 529.412 per bulan, selisih dengan Brio Satya yang menggunakan Pertalite berada di kisaran Rp 371.000 sampai Rp 617.000 per bulan, tergantung konsumsi Brio dan tarif SPKLU. Jika dibandingkan dengan Brio yang menggunakan Pertamax, selisih biaya energinya sekitar Rp 907.000 sampai Rp 1,286 juta per bulan. Dengan kata lain, dalam simulasi penggunaan 60 km per hari, Atto 1 tetap memiliki biaya energi yang lebih rendah, baik saat mengisi daya di rumah maupun ketika seluruh kebutuhan pengisian dilakukan melalui SPKLU. Sama-sama irit, tetapi punya kompromi berbeda Dari sisi biaya energi saja, BYD Atto 1 memang menawarkan pengeluaran harian yang lebih rendah dalam simulasi ini, terutama jika pengisian dilakukan di rumah. Namun, penghematan tersebut datang dengan karakter penggunaan yang berbeda. Pemilik mobil listrik perlu memperhatikan kondisi baterai dan ketersediaan fasilitas pengisian, terutama ketika mobil digunakan untuk perjalanan jauh. Ada pula pertimbangan waktu pengisian yang membuat perencanaan perjalanan menjadi lebih penting dibandingkan mobil bensin. Sementara itu, Honda Brio Satya punya fleksibilitas yang lebih sederhana. Ketika bahan bakar mulai menipis, pengemudi cukup mencari SPBU dan mengisi bensin dalam waktu relatif singkat. Hal ini membuat pengguna Brio tidak perlu terlalu memikirkan jarak tempuh tersisa atau ketersediaan titik pengisian saat melakukan perjalanan jauh. Selain itu, pelayanan aftersales juga sudah menjangkau daerah.