Raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, tengah menghadapi masalah serius di Australia. Perusahaan menyalahkan "kesalahan administrasi" atas kekacauan yang menyebabkan mereka menjual mobil produksi tahun 2025 kepada lebih dari 1.200 pelanggan yang seharusnya menerima unit produksi tahun 2026. Menyikapi kekeliruan ini, BYD akan menawarkan opsi pengembalian dana (refund) senilai jutaan dolar kepada lebih dari 1.200 konsumen yang telah membeli kendaraan dengan tahun produksi yang berbeda dari yang mereka kira. Terungkap bahwa sebanyak 1.265 pemilik BYD, yang memesan dan membayar kendaraan yang mereka kira produksi tahun 2026, malah mendapatkan kendaraan dengan tahun produksi 2025. Ilustrasi ekspor mobil listrik BYD Kompensasi dan Opsi Refund Penuh Awalnya, raksasa otomotif Tiongkok itu menawarkan kompensasi sebesar 1.100 dollar AS (sekitar Rp 17 jutaan) kepada pelanggan. Namun, mereka kemudian mengubah keputusan dan memilih untuk menawarkan opsi pengembalian dana penuh. Pihak BYD berdalih bahwa kekacauan tersebut—yang menyebabkan pelanggan menerima kendaraan yang lebih tua yang, secara teoritis, akan bernilai lebih rendah pada saat pembelian dan penjualan kembali—murni sebagai "kesalahan administrasi". “Ini adalah kesalahan administrasi yang disayangkan, dan kami meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” kata juru bicara BYD Australia, dikutip dari Drive.com.au, Rabu (15/7/2026). BYD ATTO 3 Advanced Plus dipamerkan di booth BYD pada IIMS 2026, Jakarta, sebagai salah satu andalan perusahaan di segmen SUV listrik kompak. “Tim kami di kantor pusat telah bergerak cepat untuk menutup celah ini guna mencegah terulangnya kesalahan serupa,” ujarnya. Disebutkan bahwa berbagai macam kendaraan BYD dengan harga berbeda terkena dampak kesalahan ini. Namun, jika harga rata-rata masing-masing unit berkisar di angka 40.000 dollar AS, dan setiap pelanggan memilih opsi refund, maka raksasa Tiongkok tersebut harus menanggung kerugian sekitar 50 juta dollar AS (setara Rp 760 miliar). Ilustrasi pabrik BYD di Subang. Kronologi Kekeliruan Data Produksi Berdasarkan informasi yang dihimpun, BYD secara keliru menggunakan dan mengomunikasikan kepada pelanggan tanggal setiap mobil meninggalkan pabrik, bukan tanggal mobil tersebut keluar dari jalur produksi. Pada sisi lain, merek tersebut dilaporkan membantah bahwa langkah penawaran pengembalian dana ini baru diberikan sebagai akibat dari desakan laporan berbagai media. BYD Atto 3 Advance Plus IIMS 2026 “Kami terus bekerja sama dengan semua pelanggan yang terdampak untuk membantu mereka dengan solusi, yang mencakup opsi pengembalian dana penuh atas harga transaksi pembelian awal mereka,” kata juru bicara BYD. "Banyak yang menyatakan apresiasi atas dukungan yang kami tawarkan," ujarnya. Kinerja Penjualan dan Keluhan Konsumen Masalah ini mencuat di tengah tren positif penjualan BYD. Raksasa Tiongkok itu baru saja menjadi merek mobil baru terlaris kedua di Australia bulan lalu, tepat di belakang Toyota. Lonjakan permintaan ini dipicu oleh krisis Timur Tengah, serta peningkatan volume kedatangan unit berkat pengiriman mobil. BYD Atto 3 Advanced Plus meluncur di IIMS 2026 "Ada seorang wanita yang baru saja mulai menjelaskan kepada saya bahwa mereka telah melakukan kesalahan administrasi dan mobil Anda sebenarnya dibuat pada tahun 2025, bukan seperti yang tertulis di kontrak," kata salah satu pemilik Atto 3, Zoheb Khan yang berbasis di Melbourne. "Saya tidak melihat adanya rasa urgensi di perusahaan untuk menangani hal ini. Bagaimana mungkin kesalahan administrasi itu begitu besar, dengan begitu banyak orang dan begitu banyak mobil?" ujarnya. Hingga saat ini, Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) telah didesak oleh berbagai pihak untuk menyelidiki kekeliruan massal tersebut, meskipun otoritas terkait belum mengumumkan rencana resmi untuk melakukan investigasi.