Harga bahan bakar minyak (BBM) yang fluktuatif membuat biaya operasional mobil bensin sulit diprediksi. Di sisi lain, mobil listrik menawarkan biaya energi yang cenderung stabil, terutama jika pengisian dilakukan di rumah. Makanya jadi menarik untuk membandingkan BYD Atto 1 dan Toyota Agya. Keduanya bermain di segmen mobil perkotaan, namun dengan teknologi yang sangat berbeda. Dari sisi spesifikasi, Atto 1 dibekali motor listrik bertenaga sekitar 75 TK dengan torsi 135 Nm. Mobil ini menggunakan baterai 30–38,8 kWh dengan jarak tempuh hingga 300–380 Km dalam sekali pengisian. BYD Atto 1 di IIMS 2026 Sementara, Agya mengandalkan mesin bensin 1.200 cc yang menghasilkan tenaga sekitar 87 TK dan torsi 108–113 Nm. Sebagai LCGC, karakter utamanya adalah sederhana, ringan, dan efisien untuk penggunaan harian. Untuk efisiensi energi, berdasarkan pengujian Kompas.com, Atto 1 mampu mencatat konsumsi listrik hingga 8,5 km per kWh. Namun, angka ini bisa berubah tergantung kondisi lalu lintas, gaya berkendara, dan beban kendaraan. Adapun Agya mencatat konsumsi BBM 16,2 km per liter dalam pengujian dalam kota sejauh 64 km. Kalau dipakai di rute seperti tol yang relatif lancar, hasilnya bisa lebih hemat lagi. Agar adil, digunakan simulasi pemakaian harian Bogor–Jakarta pulang-pergi sejauh 100–120 Km selama 30 hari. Total jarak tempuh berkisar 3.000 Km hingga 3.600 Km per bulan. Dengan harga Pertamax Rp 12.300 per liter, Agya membutuhkan sekitar 185–222 liter bensin per bulan. Artinya, biaya bahan bakar berada di kisaran Rp 2,27 juta hingga Rp 2,73 juta. Sementara itu, Atto 1 membutuhkan sekitar 353–424 kWh listrik per bulan. Jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif Rp 1.444 per kWh, biaya yang dikeluarkan berkisar Rp 509.000 hingga Rp 612.000. Toyota Agya GR Sport di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 Jika menggunakan SPKLU dengan tarif sekitar Rp 2.400–Rp 2.500 per kWh, biaya pengisian naik menjadi Rp 847.000 hingga Rp 1,06 juta per bulan. Meski demikian, masih lebih hemat dibanding mobil bensin. Dari simulasi tersebut, selisih biaya operasional antara keduanya mencapai Rp 1,21 juta hingga Rp 2,12 juta per bulan. Ini menunjukkan mobil listrik seperti Atto 1 menawarkan efisiensi biaya yang jauh lebih rendah untuk penggunaan harian. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang