Fenomena tutupnya sejumlah diler mobil asal Jepang di Indonesia dalam setahun terakhir mulai menjadi sorotan industri otomotif nasional. Bahkan, tidak sedikit jaringan yang memilih beralih menjual merek asal China, seiring perubahan peta persaingan di pasar domestik. Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai, penutupan diler tidak bisa dilihat secara sederhana dan perlu dikaji lebih dalam. Ilustrasi diler Toyota. Menurut dia, faktor utama yang harus dipahami adalah penyebab di balik penutupan tersebut. “Harus dilihat dulu alasan tutupnya kenapa. Saya nggak mau spesifik bicara cara Toyota menjaga diler, nanti ketahuan dong? Tapi secara umum harus dilihat, tutupnya kenapa?” ujar Bob di Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026). Bob menegaskan, kompetisi dalam industri otomotif merupakan hal yang wajar, selama berjalan secara adil. Namun, ia mengingatkan agar tidak ada ketimpangan yang justru merugikan pelaku industri tertentu. “Selama fair competition, saya rasa itu tidak masalah. Tapi jangan sampai kompetisinya tidak fair. Mereka (mobil China) bisa lebih murah karena tidak kena pajak, sementara kita kena pajak. Itu kan jadi tidak seimbang,” kata dia. Lebih lanjut, Bob juga menyinggung besarnya investasi yang telah dikucurkan pabrikan Jepang di Indonesia, terutama dalam membangun fasilitas produksi dan meningkatkan kandungan lokal. Ia menilai, upaya tersebut seharusnya mendapat dukungan agar tetap kompetitif di pasar. Ilustrasi test drive mobil Toyota Veloz Hybrid di Plaza Toyota “Harus diingat, produk yang dijual di Indonesia itu sudah melalui proses lokalisasi. Itu bukan hal mudah karena butuh investasi besar,” ujarnya. Menurut Bob, investasi tersebut juga berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, khususnya di kawasan industri seperti Cikarang dan Karawang. Karena itu, ia berharap kebijakan yang ada tidak justru membuat industri yang sudah berinvestasi menjadi kurang kompetitif. “Kalau kita investasi memang lebih mahal, tapi ada efek ke penciptaan lapangan kerja dan ekonomi. Jadi jangan sampai niat untuk investasi itu justru membuat kita jadi tidak kompetitif,” kata Bob. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang