Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi belakangan ini mulai memengaruhi peta persaingan industri otomotif nasional. Di tengah tekanan tersebut, mobil listrik diprediksi bakal semakin dilirik konsumen sebagai alternatif yang lebih hemat biaya operasional. Presiden Direktur PT Kreasi Auto Kencana, Andee Yoestong, menilai tren kenaikan harga BBM bisa menjadi pemicu pergeseran preferensi pasar dari mobil berbahan bakar konvensional ke kendaraan listrik (EV). Peresmian diler DFSK-Seres di Manokwari, Sabtu (6/12/2025) “Kalau saya melihatnya daerah yang saya nambah ini mungkin yang kelasnya bukan kelas atas-atas ya. Kelas Stargazer (low MPV) gitu ya kan tetap peminat. Tapi jangan melihat mobil-mobil ini sekarang murah. Kalau bensin bakal naik gila-gilaan ya pasti orang susah,” ujar Andee kepada Kompas.com, dikutip Senin (20/4/2026). Menurut Andee, saat ini pasar masih didominasi kendaraan berbahan bakar bensin. Namun, porsi mobil listrik terus menunjukkan peningkatan, terutama dengan masuknya berbagai merek baru, khususnya dari China. “(Penjualan) masih banyak (mobil) bensin. EV China juga banyak. Mungkin yang EV 30-40 persen, sisanya bensin,” ucap Andee, yang membawahi diler merek Hyundai, DFSK-Seres, Hino, Nissan, dan Ford. Ilustrasi pengisian BBM Pertamax Turbo di SPBU Pertamina. Harga Pertamax Turbo terbaru. Harga Pertamax September 2025. Harga Pertamax Turbo hari ini. Harga Pertamax Turbo 2025. Ia juga menilai tren global memperkuat prospek kendaraan listrik, terutama karena harga BBM yang terus merangkak naik di berbagai negara. “Saya rasa sih begitu ya (penjualan EV akan terus meningkat), apalagi keadaan dunia sekarang harga BBM naik terus. Saya kan baru pulang dari Chicago, aduh di sana harga BBM ampun,” kata dia. Meski pasar otomotif tengah mengalami tekanan, Andee justru melihat peluang ekspansi jaringan diler masih terbuka, khususnya di segmen kendaraan dengan harga terjangkau. Ilustrasi SPKLU mobil listrik di Tol Trans Jawa “Kalau saya bilang sih mungkin banyak yang baru ya, muncul-muncul ya (produk baru) dan harga akan lebih murah. Orang bilang bakal naik (harga), saya tidak melihat gitu ya. Saya rasa mobilnya mereka masih tetap lah ya, murah-murah dari China,” kata Andee. Dengan kondisi ini, kenaikan harga BBM menjadi salah satu faktor penting yang berpotensi mempercepat adopsi mobil listrik di Indonesia. Di sisi lain, produsen dan diler juga dituntut lebih adaptif dalam membaca perubahan perilaku konsumen yang kini semakin sensitif terhadap biaya penggunaan kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang