Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk otomotif. Berdasarkan data perdagangan, Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 17.563 per dollar AS. Angka tersebut menjadi salah satu posisi terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir. Namun, pelaku usaha mobil bekas menilai kondisi tersebut sejauh ini belum berdampak langsung terhadap kenaikan harga kendaraan second di pasaran. Meski begitu, pelemahan rupiah disebut tetap memengaruhi kondisi pasar secara tidak langsung, terutama terhadap daya beli masyarakat dan aktivitas bisnis di berbagai sektor. Thung Andi Supriadi, pemilik Rendani Mobil, mengatakan pelemahan rupiah belum memicu kenaikan harga mobil bekas di pasaran. Namun, kondisi ekonomi membuat daya beli masyarakat mengalami penurunan. Mobil bekas di Bursa Mobil Bekas Carsentro Solo Baru, Jawa Tengah “Kalau untuk mobil bekas kemungkinan tidak ada kenaikan harga. Pengaruhnya lebih ke daya beli yang menurun,” kata Thung kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026). Konsumen saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian kendaraan, terutama untuk kebutuhan yang bukan prioritas utama. Kondisi tersebut membuat transaksi mobil bekas belum terlalu bergairah meski harga relatif stabil. Sementara itu, Ahsan, pemilik showroom mobil dan sepeda motor bekas, Kembar Motor, Solo menilai kenaikan harga saat ini lebih berpotensi terjadi pada mobil baru dibanding mobil bekas. “Sementara ini belum ada kenaikan. Kalau mobil baru memang ada kenaikan,” kata Akhsan kepada Kompas.com. Kenaikan harga mobil baru biasanya dipengaruhi biaya produksi dan komponen impor yang terdampak nilai tukar rupiah. Sedangkan pasar mobil bekas masih lebih dipengaruhi kondisi permintaan dan kemampuan beli masyarakat. Sementara, Ketua Asosiasi Mobil Bekas Indonesia (AMBI), Tjung Subianto atau yang akrab dipanggil Ko Ationg mengatakan, dampak pelemahan rupiah saat ini lebih terasa bagi pelaku usaha yang bergantung pada barang impor. Sementara di pasar mobil bekas, pengaruhnya belum terlalu terlihat secara langsung terhadap harga kendaraan. “Kondisi rupiah melemah, dampak langsung lebih ke pengusaha importir saja. Kalau di mobil bekas, yang terasa market agak stagnan karena pengaruh sektor bisnis lain, kan saling terkait secara tidak langsung,” kata Ko Ationg kepada Kompas.com. Menurut dia, kondisi pasar mobil bekas saat ini juga dipengaruhi momentum setelah Lebaran yang biasanya membuat transaksi cenderung melambat. “Kalau saya melihat situasi ini memang juga pas habis Lebaran, memang pasar agak drop,” kata dia. Dengan kondisi tersebut, pasar mobil bekas diperkirakan masih akan bergerak hati-hati dalam beberapa waktu ke depan. Meski harga kendaraan second relatif stabil, pelemahan rupiah dan kondisi ekonomi dinilai tetap memengaruhi minat beli masyarakat serta aktivitas transaksi di pasar otomotif nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang