Fluktuasi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap Dollar Amerika Serikat dan Euro dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan tekanan bagi industri otomotif nasional. Kondisi makroekonomi ini diakui turut berdampak pada sektor bisnis kendaraan niaga. PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) memberikan sinyal bahwa pelemahan mata uang ini secara alami dapat memicu adanya penyesuaian harga di sektor purnajual, khususnya untuk komponen atau suku cadang. President Director DCVI Naeem Hassim mengatakan, pergerakan nilai tukar mata uang asing sebenarnya merupakan tantangan harian yang dihadapi oleh pabrikan otomotif di berbagai belahan dunia. "Ini hal yang alami. Wajar jika Rupiah terdevaluasi terhadap Dollar atau Euro, kondisi itu akan menyulitkan perusahaan untuk mempertahankan margin mereka. tentu saja akan berujung pada kenaikan harga," ujar Naeem saat ditemui di Jakarta, belum lama ini. Pabrik baru Daimler di Cikarang Faktor Stok Lama Jadi Penentu Meskipun potensi kenaikan harga suku cadang Mercedes-Benz terbuka lebar, Naeem menambahkan bahwa kebijakan penyesuaian harga ini akan kembali pada strategi masing-masing diler. Menurutnya, tidak semua komponen akan langsung mengalami lonjakan harga secara instan di pasar. Pabrikan atau diler yang masih memiliki ketersediaan stok lama dengan harga perolehan sebelum Rupiah melemah kemungkinan besar akan menahan harga agar tetap stabil. "Setiap korporasi harus melihat ke dalam entitas mereka sendiri dan menentukan apa yang perlu dilakukan. Apakah ingin menaikkan harga atau tidak? Beberapa pihak, jika melihat pasar masih kurang baik dan mereka memiliki stok saat ini yang tersedia, mungkin tidak akan menaikkannya," kata Naeem. Sebaliknya, tekanan penyesuaian harga tidak dapat dihindari bagi diler yang ketersediaan stok komponennya sudah habis. Mereka terpaksa melakukan pengadaan atau impor baru dari luar negeri dengan menggunakan kurs terkini. Keterbatasan Stok Akibat Geopolitik Global Beban yang dihadapi industri kendaraan niaga tidak hanya bersumber dari nilai tukar mata uang, melainkan juga diperberat oleh situasi geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik tersebut berdampak langsung pada terhambatnya rantai pasok pengiriman suku cadang dari Eropa ke Indonesia. "Jika melihat situasi geopolitik, ini cukup menantang bagi Indonesia karena posisinya berada di selatan, dan jika ingin menuju ke Eropa, jalur pengiriman terhambat oleh situasi di Timur Tengah. Jadi, ini memang menjadi tantangan," jelas Naeem. Di tengah situasi makro yang menantang ini, Daimler berharap pemerintah dapat terus merumuskan program insentif baru guna menjaga iklim investasi asing agar tetap kondusif di Indonesia. Naeem percaya, komitmen kuat dari pemerintah akan membantu para investor melewati tantangan fluktuasi nilai tukar ini. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang