Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, membuka peluang melakukan penyesuaian harga mobil di Indonesia seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Chief Executive Officer VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, mengatakan perusahaan masih memantau perkembangan kurs mata uang serta dampaknya terhadap biaya produksi dan rantai pasok. “Kalau harga bahan bakunya meningkat tentu harus ada penyesuaian harga. Tetapi sampai hari ini kami masih belum melakukan adjustment harga terlebih dahulu,” ujar Kariyanto di Jakarta, Rabu (20/5/2026). VinFast Indonesia resmi meluncurkan VinFast VF MPV 7 buatan lokal (CKD) Menurut dia, VinFast masih menghitung berbagai faktor sebelum memutuskan menaikkan harga kendaraan listrik di pasar domestik. Pasalnya, meski telah memiliki fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat, sejumlah komponen kendaraan masih didatangkan dari Vietnam. “Karena memang banyak aspek, misalnya kami impor dari Vietnam, bahan baku dan lain sebagainya. Jadi kami masih mencermati,” kata dia. Ia menambahkan, keputusan penyesuaian harga tidak bisa dilakukan secara terburu-buru karena berdampak pada banyak pihak dalam rantai bisnis perusahaan, termasuk pemasok dan mitra operasional. “Begitu kami melakukan adjustment harga, efek turunannya cukup banyak, ke supplier dan berbagai pihak lain. Jadi kami tidak ingin mengambil keputusan terlalu cepat,” ujarnya. Saat ini VinFast memilih menahan harga sambil melihat perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun dong Vietnam. Sebelumnya, sejumlah produsen otomotif lain juga mengungkapkan potensi serupa. Chery dan BYD mengaku tengah menghitung dampak kenaikan biaya produksi terhadap harga jual kendaraan di Indonesia. Kunjungan ke pabrik VinFast di Vietnam Country Director Chery Sales Indonesia, Zeng Shuo, mengatakan kenaikan berbagai biaya operasional menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan perusahaan. “Kita juga lagi lihat karena sekarang salah satu alasannya semua biaya lagi naik. Kita lagi coba kalkulasi, tapi kalau biaya tetap naik ada kemungkinan harganya naik juga,” kata Zeng. Sementara itu, Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menyebut kemungkinan penyesuaian harga tetap terbuka meski belum menjadi strategi jangka pendek perusahaan. “Kalau ditanya potensi kenaikan harga mungkin saja, tapi saat ini tidak dalam strategi jangka pendek kami,” kata Luther. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang