Kenaikan harga material plastik di pasar global mulai dirasakan industri otomotif, termasuk segmen sepeda motor. Komponen berbahan plastik yang mendominasi banyak bagian motor, dari bodi hingga komponen pendukung, membuat tekanan biaya produksi kian terasa. Di tengah situasi ini, produsen roda dua mulai berhitung ulang, apakah akan menyerap kenaikan biaya melalui efisiensi internal atau meneruskannya ke konsumen lewat penyesuaian harga. Suzuki Satria Pro dan Satria F150 baru Teuku Agha, 2W Sales & Marketing Department Head PT Suzuki Indomobil Sales, mengakui bahwa kenaikan bahan baku berpotensi langsung berdampak pada ongkos produksi. “Saya belum dapat laporan untuk masalah ini ya, cuma kalau harga bahan baku naik ya pasti otomatis akan menambah biaya produksi unit,” ujar Agha, kepada Kompas.com (17/4/2026). Menurutnya, langkah yang akan diambil perusahaan sangat bergantung pada seberapa besar kenaikan tersebut serta kondisi global yang menyertainya. Ilustrasi booth Suzuki di IMOS 2025 “Tergantung dengan prediksi kenaikannya, apabila kondisi seperti saat ini di mana ada faktor geopolitik dan di berbagai sektor biayanya naik, maka perusahaan akan lebih survive kalau naikkan harga ke konsumen,” ucap Agha. Meski begitu, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai besaran potensi kenaikan harga sepeda motor di pasar. “Nah kalau di sini, saya masih belum ada laporan masalah ini, jadi masih sama-sama saja seperti sebelumya.” Suzuki Nex Crossover di bengkel resmi Suzuki Sikap menunggu ini juga tercermin dari belum adanya perubahan harga pada lini produk Suzuki. Salah satu contohnya adalah Suzuki Burgman Street 125EX yang masih stabil di angka Rp 26,54 juta. Model ini terakhir mengalami penyesuaian harga pada Juli 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa produsen masih berupaya menjaga daya beli konsumen di tengah tekanan biaya. Namun, jika tren kenaikan harga material terus berlanjut, bukan tidak mungkin penyesuaian harga akan menjadi langkah yang sulit dihindari. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang