Setelah mencoba Suzuki Satria Pro beberapa hari untuk dipakai harian, saya langsung merasa motor ini punya karakter yang sekarang sudah mulai jarang ditemui di jalanan. Di tengah dominasi skuter matik yang serba praktis, Satria Pro justru menawarkan sensasi berkendara yang jauh lebih “hidup”. Ada rasa puas saat pindah gigi, main kopling, dengar raungan mesin di putaran atas, sampai sensasi tarikannya yang benar-benar galak ketika RPM mulai naik. Test ride Suzuki Satria Pro Buat saya pribadi, motor ini juga membawa nostalgia. Dulu waktu zaman sekolah, anak yang naik Satria pasti selalu kelihatan keren. Entah itu Satria 2-tak, Satria FU karbu, sampai Satria injeksi awal. Ada aura motor kencang yang selalu melekat. Nah sekarang, Suzuki seperti mencoba membawa rasa itu lagi, tapi dibungkus fitur modern seperti keyless, panel meter digital, konektivitas smartphone, sampai assist slipper clutch. Test ride Suzuki Satria Pro Bicara soal dapur pacu, ini yang jadi keunggulan Satria Pro. Mesin 150 cc DOHC 4 katup berpendingin cairan miliknya memang masih buas. Tenaganya mencapai 18,1 Tk dan torsi 13,8 Nm. Karakter mesinnya benar-benar beda dibanding motor matik populer seperti Yamaha Aerox atau Honda Vario. Tarikannya galak banget. Penyaluran tenaga dari mesin ke roda mungkin salah satu yang terbaik di kelas 150 cc. Test ride Suzuki Satria Pro Saat RPM sudah lewat 6.000 rpm, motor terasa seperti berubah karakter. Putaran mesin naik cepat, tenaganya meledak, dan sensasi akselerasinya benar-benar bikin nagih. Bahkan buat ukuran motor harian, performanya mungkin terasa berlebihan. Saya sempat mencoba di trek pendek sekitar 1 km, dan dalam waktu singkat motor ini bisa menyentuh 120 Kpj di gigi lima. Kalau jalan lebih panjang, tembus 140 Kpj lebih jelas bukan hal sulit. Test ride Suzuki Satria Pro Kencang di Jalan Kosong, Agak Ribet saat Macet Tapi, karakter mesin overbore seperti ini justru jadi tantangan saat dipakai harian di dalam kota. Kalau jalanan sedang kosong, terutama jalur luar kota atau touring, Satria Pro benar-benar nikmat. Mesin atasnya kuat banget dan rasio giginya rapat, jadi sensasi naik giginya terasa sporty. Namun ketika dipakai macet-macetan, karakter mesinnya kadang bikin gregetan. Di putaran bawah, torsinya terasa kecil. Saat RPM masih rendah, motor terasa agak loyo. Jadi kalau mau sat-set di kemacetan, saya harus sering main kopling dan rajin turunin gigi supaya RPM tetap tinggi. Test ride Suzuki Satria Pro Buat yang terbiasa naik matik dan tinggal gas, jelas perlu adaptasi. Belum lagi harus rajin tekan kopling saat macet. Di satu sisi inilah yang bikin seru, karena pengendara benar-benar diajak “berinteraksi” dengan motor. Tapi di sisi lain, buat penggunaan harian padat tentu lebih melelahkan dibanding skutik. Test ride Suzuki Satria Pro Motor Lincah, Tapi Kurang Pede Buat Nikung Kencang Hal yang paling saya suka dari Satria Pro justru handling-nya. Bobotnya cuma sekitar 115 kg, jadi motor terasa ringan banget. Dipakai selap-selip di kemacetan enak, gampang dikoreksi, dan radius putarnya kecil. Ini salah satu motor yang benar-benar terasa menyenangkan dipakai harian. Posisi duduknya juga unik. Nuansa motor sport tetap terasa karena setangnya rendah dan bagian tengah bodinya bisa dijepit pakai kaki. Tapi posisi pijakan kaki masih khas motor bebek, jadi tidak terlalu pegal buat dipakai harian. Suspensinya juga empuk banget. Bahkan menurut saya paling empuk buat ukuran motor bebek. Test ride Suzuki Satria Pro Kalau buat jalan rusak dan polisi tidur memang nyaman sekali. Bagian belakang terasa lembut dan enak buat boncengan. Tapi saat motor dipakai agak kencang dan masuk tikungan, karakter suspensinya jadi terlalu mengayun. Ditambah ukuran ban yang sangat ramping, rasa percaya diri saat menikung cepat jadi agak berkurang. Buat yang suka riding agresif atau menikung sampai rebah, menurut saya ban dan suspensinya memang perlu upgrade. Suzuki Satria Pro resmi meluncur, harga Rp 34,9 juta Meski begitu, joknya masih cukup nyaman dipakai harian. Busanya empuk walau bentuknya ramping. Pada akhirnya, Suzuki Satria Pro memang bukan motor buat semua orang. Motor ini cocok buat orang yang mulai bosan dengan skuter matik dan ingin kembali merasakan sensasi berkendara manual yang lebih aktif dan emosional. Atau buat mereka yang ingin nostalgia masa sekolah dulu, ketika naik Satria terasa keren dan beda sendiri di jalan. Dan menurut saya, itulah daya tarik terbesar Suzuki Satria Pro. Bukan sekadar soal kencang, tapi soal rasa berkendaranya yang masih punya karakter kuat di tengah motor matik masa kini. Test ride Suzuki Satria Pro Kesimpulan Kelebihan: performa mesin bertenaga, tuas kopling ringan, handling lincah buat dipakai harian, suspensi empuk dan nyaman saat lewat jalan rusak Kekurangan: karakter mesin terasa loyo di RPM rendah, harus sering main kopling saat dipakai harian, kapasitas tangki BBM kecil, kurang pede saat dipakai cornering KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang