Setelah beberapa hari mencoba motor ini untuk harian, saya merasa Satria Pro bukan sekadar facelift biasa. Karakternya masih sangat Satria, tapi sekarang dibungkus fitur yang jauh lebih modern. Kesan pertama saat melihat desainnya memang campur aduk. Tampilan depan bukan selera semua orang. Awalnya saya kurang sreg karena di foto terlihat aneh, tapi saat lihat langsung ternyata jauh lebih proporsional. Test ride Suzuki Satria Pro Walau begitu, menurut saya desain lampu depannya masih bisa dibuat lebih tajam supaya kesan sporty-nya lebih keluar. Apalagi karakter Satria sejak dulu identik dengan tampang agresif. Untungnya Suzuki memberi sentuhan modern lewat lampu full LED tiga kluster, panel instrumen baru, sampai hadirnya rem ABS di roda depan. Yang agak disayangkan, lampu sein depan masih pakai bohlam biasa dan pelek model palang Y-nya nyaris tidak berubah sejak era Satria F150 CBU tahun 2004. Bahkan behel belakang sekarang justru berbahan plastik, yang sedikit mengurangi kesan premium. Test ride Suzuki Satria Pro Fitur Lebih Modern Bagian yang paling saya suka justru area kokpit. Spidometer baru Satria Pro terasa jauh lebih modern dibanding generasi sebelumnya. Memang belum TFT full color, tapi ukuran LCD-nya besar dan informasinya lengkap. Ada indikator gigi, konsumsi BBM real time, average fuel consumption, voltase aki, sampai konektivitas smartphone via Bluetooth. Saat terhubung ke aplikasi Suzuki, panel meter bisa menampilkan navigasi turn-by-turn, notifikasi telepon, sampai indikator baterai smartphone. Buat motor bebek sport, fitur seperti ini jelas terasa canggih. Fitur Suzuki Ride Connect di Satria Pro Suzuki juga akhirnya menyematkan keyless ignition system. Walau sayangnya bukaan jok masih manual menggunakan kunci mekanis, jadi terasa belum sepenuhnya praktis. Hal kecil yang saya apresiasi justru bagasi kecil khas Satria masih dipertahankan. Sekarang bahkan ada tambahan USB charger type-A di dalamnya. Simpel, tapi sangat berguna buat penggunaan harian. Fitur assist & slipper clutch juga terasa signifikan. Tarikan kopling jadi jauh lebih ringan dibanding Satria generasi lama. Dipakai macet-macetan di Jakarta, tangan jadi tidak cepat pegal. Test ride Suzuki Satria Pro Rasa Berkendara Menyenangkan Bicara soal impresi berkendara, di sinilah Satria Pro menunjukkan identitasnya. Mesin 150 cc DOHC 4 katup berpendingin cairannya masih buas. Tenaganya mencapai 18,1 Tk dengan torsi 13,8 Nm. Karakter mesinnya benar-benar beda dibanding motor matik populer saat ini. Saat RPM lewat 6.000 rpm, tenaganya langsung meledak dan bikin nagih. Saya sempat mencoba di trek pendek sekitar 1 km dan motor ini sudah bisa menyentuh 120 kpj dengan mudah. Sensasi pindah gigi, main kopling, dan mendengar raungan mesin di putaran atas inilah yang mulai jarang ditemukan sekarang. Test ride Suzuki Satria Pro Tapi konsekuensinya juga ada. Di RPM bawah, torsinya terasa kurang berisi. Saat dipakai stop and go di kemacetan, saya harus cukup sering main kopling dan turunin gigi supaya tenaga tetap responsif. Kalau terbiasa naik motor matik yang tinggal gas, jelas perlu adaptasi. Untungnya handling motor ini masih jadi salah satu yang terbaik di kelasnya. Bobot sekitar 115 kg bikin motor terasa ringan dan lincah buat selap-selip kemacetan. Suspensinya juga empuk, bahkan mungkin terlalu empuk kalau dipakai menikung agresif. Test ride Suzuki Satria Pro Saat dipakai cornering cepat, suspensi belakang terasa sedikit mengayun dan ban bawaan yang ramping membuat rasa percaya diri berkurang. Soal konsumsi BBM, hasilnya ternyata masih cukup masuk akal. Dari pengujian rute Bogor-Jakarta-Bogor dengan kombinasi macet dan sesekali tes akselerasi, konsumsi BBM rata-ratanya sekitar 39 km per liter. Saat dipakai lebih santai, angkanya bahkan bisa menyentuh 43 km per liter. Kekurangan terbesar justru ada di tangki bensin yang hanya 4 liter. Baru dipakai sekitar 100 km lebih sedikit, indikator bensin sudah mulai berkedip lagi. Test ride Suzuki Satria Pro Untuk biaya kepemilikan, Satria Pro ternyata masih cukup ramah kantong. Biaya servis ringan di bengkel resmi sebesar Rp 80.000. Oli Ecstar dijual Rp 103.000, busi Rp 25.000, filter udara Rp 46.000, dan kampas rem depan Rp 117.500. Sementara pajak tahunannya berada di kisaran Rp 363.000, termasuk PKB, Opsen PKB, dan SWDKLLJ. Pada akhirnya, Suzuki Satria Pro memang bukan motor buat semua orang. Tapi buat yang mulai bosan dengan motor matik dan rindu sensasi berkendara manual, motor ini masih jadi salah satu paket paling menarik di kelas 150 cc. Test ride Suzuki Satria Pro Kelebihan: panel instrumen baru lebih futuristis dan informatif, ada konektivitas smartphone, fitur keyless, assist & slipper clutch bikin tuas kopling ringan, rem ABS, performa bertenaga, handling ringan Kekurangan: desain fascia bukan selera semua orang, spidometer masih layar monokrom, behel belakang bahan plastik, tidak ada engine cut off, buka jok masih pakai anak kunci, kapasitas tangki kecil KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang