Kenaikan harga bahan baku plastik mulai berdampak pada industri otomotif tanah air. PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) sudah melakukan penyesuaian harga jual produknya."Per April itu sudah naik," ujar Rifki Maulana, Manager Public Relation, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing di Samosir, Sumatera Utara, Sabtu (18/4/2026). Dia membenarkan harga motor sudah disesuaikan karena imbas kenaikan harga plastik. Mengingat sebagian besar body part dan komponen pendukung motor masa kini menggunakan material tersebut.Kenaikan ini mencerminkan kondisi industri manufaktur yang sangat bergantung pada rantai pasok global. Ketika harga bahan mentah di tingkat hulu (sourcing) mengalami kenaikan, maka harga jual ke tangan konsumen akhir pun ikut terkoreksi."Kita namanya produksi kan secara global kan sudah tahu dari sourcing-nya kita," tambah dia.Pihak Yamaha menyebut kenaikan berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu (kecuali Xmax). Sementara Xmax Tech Max alias varian tertinggi sampai Rp 1 juta.Harga plastik mengalami kenaikan karena pasokan bahan baku terganggu perang di Timur Tengah. Kenaikan harga terjadi karena Indonesia masih tergantung bahan baku plastik dari impor.Sebagaimana diketahui, plastik sebagian besar berasal dari hasil pengolahan minyak bumi termasuk polyethylene (PE) dan polypropylene, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan di dunia. Kenaikan harga minyak akibat perang tidak hanya meningkatkan biaya produksi plastik, tetapi juga harga bahan bakunya.Gangguan tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga minyak mentah dan nafta sebagai bahan baku utama petrokimia global. Selain itu, biaya logistik seperti freight, asuransi, hingga waktu pengiriman juga ikut melonjak, di tengah keterbatasan pasokan bahan baku.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, kondisi ini mendorong kenaikan harga resin plastik yang memberi tekanan signifikan terhadap biaya operasional industri."Kondisi ini yang mendorong kenaikan harga resin plastik dan memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan ritel," kata Shinta kepada detikcom, Kamis, (16/4/2026)