Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dikhawatirkan memberi tekanan terhadap industri otomotif. Kondisi nilai tukar rupiah dapat memengaruhi biaya produksi, harga komponen, hingga strategi penjualan kendaraan di pasar domestik. Meski demikian, PT Honda Prospect Motor (HPM) memastikan hingga saat ini belum memiliki rencana menaikkan harga jual mobil di Indonesia. Sales & Marketing and Aftersales Director HPM, Yusak Billy, mengatakan, fluktuasi kurs rupiah memang menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi biaya produksi industri otomotif. Test drive Honda HR-V Hybrid varian termurah "Memang nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing itu mempengaruhi industri otomotif dan tentunya dengan pelemahan rupiah saat ini memberi tekanan bagi kami yang melakukan importasi misalnya impor, atau komponen ataupun suku cadang yang diproduksi untuk bahan baku produksi kami yang masih menggunakan mata uang asing," ujar Billy di Jakarta, akhir pekan lalu. Produksi Lokal Billy menjelaskan, dampak pelemahan rupiah relatif bisa ditekan karena sebagian besar produk yang dipasarkan di Indonesia diproduksi di pabrik lokal dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi. "Tapi sekarang ini saya bicara bukan Prelude tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang (Jawa Barat) itu sebenarnya tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi jadi bisa menemukan dampak pelemahan dari rupiah," kata Billy. Sebagai informasi, pabrik Honda di Karawang, Jawa Barat, memproduksi sejumlah model untuk pasar domestik, seperti Brio, WR-V, BR-V, hingga HR-V. Honda Prelude Tingginya kandungan lokal membuat ketergantungan terhadap komponen impor menjadi lebih kecil dibanding kendaraan yang didatangkan secara utuh dari luar negeri. Tahan Harga Meski tekanan biaya akibat kurs masih terjadi, Honda mengaku belum akan langsung menyesuaikan harga kendaraan. Perusahaan saat ini masih memantau perkembangan pasar dan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan. "Sampai sekarang kami belum ada rencana menaikan harga jual mobil termasuk produk-produk ini jadi kami terus memonitor kekembangannya, monitor pasar bagaimana nilai tukarnya seperti apa itu kami monitor untuk menentukan apakah kami melakukan yang tepat," ujar Billy. Selain nilai tukar rupiah, Billy mengatakan, terdapat faktor lain yang juga memengaruhi harga kendaraan, salah satunya adalah pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang terus mengalami penyesuaian tiap tahun. "Tapi itu adalah salah satu faktor, ada juga faktor perpajakan BBN kan setiap tahun naik itu juga salah satu faktor yang bisa menyebabkan (harga) mobil, dan harga untuk tahun depan memang tidak mengikat," kata Billy. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang