PT Honda Prospect Motor (HPM) memastikan arah strategi elektrifikasi Honda di Indonesia mulai bergeser. Setelah lebih dulu menghadirkan Honda e:N1 untuk pasar fleet atau business to business (B2B), kini pabrikan asal Jepang tersebut bersiap menyasar konsumen ritel melalui model listrik terbaru, Honda Super One. Pergeseran strategi tersebut sejalan dengan respons pasar terhadap e:N1 yang seluruh unitnya telah habis terjual. Namun, model tersebut memang sejak awal diposisikan sebagai kendaraan untuk kebutuhan korporasi, bukan dipasarkan secara luas kepada konsumen perorangan. e:N1 Habis Terjual untuk Pasar B2B Communication Strategy Sub-Division Head PT Honda Prospect Motor (HPM) Yulian Karfili, mengatakan, seluruh kuota Honda e:N1 yang disiapkan pada tahun lalu sudah terserap pasar. Jumlahnya sekitar 150 unit dan seluruhnya dialokasikan untuk segmen B2B. Honda e:N1 resmi meluncur di IIMS 2025 "Dan itu semuanya memang untuk B2B. Jadi, sebenarnya sudah tidak lagi dijual," ujar Arfi, kepada wartawan, saat ditemui di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, di ICE BSD, Minggu (2/8/2026). Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Honda memanfaatkan e:N1 sebagai langkah awal memperkenalkan kendaraan listrik di Indonesia melalui konsumen korporasi. Strategi ini dinilai dapat memberikan pengalaman penggunaan kendaraan listrik dalam skala operasional sebelum memperluas pemasaran ke pasar ritel. Super One Jadi Andalan untuk Konsumen Umum Setelah e:N1 tidak lagi dipasarkan, Honda menyiapkan langkah berikutnya melalui Super One. Model ini diproyeksikan menjadi kendaraan listrik Honda yang menyasar konsumen umum. PT Honda Prospect Motor (HPM) akan memperkenalkan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) terbaru, Honda Super One, pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Menurut Arfi, pada tahap awal distribusinya masih dilakukan secara terbatas. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk melihat respons pasar sekaligus menyiapkan ekosistem pendukung sebelum penjualan dilakukan secara lebih luas. "Langkah berikutnya adalah Super One, yang ini memang ditujukan untuk konsumen umum, meskipun saat ini masih dalam jumlah yang terbatas dulu nih awalnya," kata Arfi. Kehadiran Super One menjadi sinyal bahwa Honda mulai memperluas penetrasi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia. Setelah mengawali perjalanan elektrifikasi melalui pasar korporasi, pabrikan kini mulai membuka akses bagi konsumen ritel yang ingin beralih ke kendaraan tanpa emisi.