Cara pemasaran dan interaksi diler motor dengan konsumen di Indonesia kini telah mengalami pergeseran. Era di mana tenaga penjual hanya menunggu konsumen datang ke diler atau sekadar menyebar brosur di pinggir jalan tampaknya mulai usang. Di era digital, garda depan diler motor dituntut untuk adaptif, kreatif, bahkan harus mampu bertransformasi menjadi seorang kreator konten di media sosial demi menarik minat konsumen masa kini. Seleb TikTok di Garda Depan Diler Fenomena menarik ini terungkap dalam pelaksanaan Kontes Layanan Honda Nasional (KLHN) 2026. Di balik ribuan peserta yang bersaing, tidak sedikit garda depan Honda yang sudah aktif membangun reputasi digital mereka sendiri. Ilustrasi diler motor Wahana Honda General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM) Ahmad Muhibbuddin menceritakan salah satu temuan menariknya saat terlibat langsung dalam proses penjurian. "Yang menarik dari beberapa penjurian, salah satu peserta dari Jawa Timur itu ternyata adalah seleb TikTok. Pengikutnya bahkan sudah mencapai 34.000 orang. Konten yang mereka buat itu jenaka yang menghibur, pendekatannya secara soft selling. Setelah ada interaksi di media sosial, baru kemudian diarahkan dan di-folow up di darat (diler)," ujar Muhib di Jakarta, Kamis (16/7/2026). Melihat potensi besar tersebut, PT AHM pun bergerak cepat dengan tidak membiarkan para frontliner berkreasi tanpa arah. General Manager Honda Customer Care Center (HC3) AHM Antok Yuniarso menjelaskan, pihaknya kini secara serius mengintegrasikan kemampuan mengelola media sosial ke dalam materi pelatihan dan kriteria penilaian kontes nasional. "Kami melihat sosial media sudah sangat gencar digunakan oleh konsumen. Di divisi customer care, kami menyiapkan modul pelatihan khusus untuk melatih seluruh frontliner agar melek media sosial. Jadi bagaimana memanfaatkan wadah ini secara produktif untuk melayani konsumen," jelas Antok. Pengaruh Besar Gen Z di Wilayah Pedesaan Pergeseran strategi ke ranah digital ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan temuan di lapangan, keputusan pembelian motor di dalam keluarga kini banyak dipengaruhi oleh anak-anak muda dari generasi Z (Gen Z). KLHN 2026: AHM Dorong Transformasi Layanan Berbasis Empati Muhib mencontohkan kasus unik yang jamak terjadi di wilayah Lampung. Di sana, banyak orang tua yang berprofesi sebagai petani tidak bersentuhan langsung dengan media sosial maupun perkembangan teknologi informasi terkini. "Bapaknya mungkin seorang petani yang tidak main handphone. Tetapi anaknya (Gen Z) yang aktif di media sosial. Akhirnya, anak ini yang merekomendasikan dan memengaruhi keputusan bapaknya, 'Pak, tolong beli motor yang ini saja, jangan yang itu'," ucap Muhib. Kondisi tersebut membuktikan bahwa pendekatan pemasaran tidak bisa lagi hanya menyasar siapa yang bayar, melainkan harus mampu memikat pembawa pengaruh di dalam keluarga, yakni anak-anak muda yang aktif secara digital. "Mau tidak mau, kami harus terus menantang para sales people kami untuk menjadi bagian dari perubahan dan pergerakan di area media sosial ini," kata Muhib.