Honda tetap mempertahankan eksistensi Civic di Indonesia meski pasar sedan terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Pabrikan asal Jepang itu menilai masih ada kelompok konsumen yang mencari pengalaman berkendara, bukan sekadar kendaraan untuk menunjang mobilitas sehari-hari. Selama lima dekade hadir di Indonesia, Honda Civic telah berevolusi hingga memasuki generasi ke-11. 50 tahun Honda Civic di Indonesia Transformasinya bukan hanya tampak pada desain dan teknologi, tetapi juga menyentuh perubahan bentuk bodi serta pilihan sistem penggerak yang mengikuti perkembangan zaman. Evolusi tersebut membuat Civic tak lagi sekadar dipandang sebagai sebuah produk otomotif. Model ini telah menjadi bagian dari perjalanan budaya otomotif di Indonesia. Kini, tongkat estafet pengembangannya diteruskan melalui kehadiran Honda Civic e:HEV yang mengusung teknologi elektrifikasi. Komunitas Civic FD Society Chapter Tangerang Namun, peminat sedan saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Penjualannya tidak semulus mobil-mobil favorit zaman sekarang, seperti hatchback, SUV, atau MPV. Test drive Honda Civic RS e:HEV Sedan Tetap Punya Penggemar Communication Strategy Sub-Division Head PT Honda Prospect Motor (HPM) Yulian Karfili mengatakan, pasar sedan memang sejak lama merupakan segmen yang sangat spesifik. Karena itu, Honda tidak menempatkan Civic sebagai model yang menyasar pasar massal. "Tapi, untuk orang-orang yang memang membutuhkan sebuah kendaraan yang rasa berkendaranya lebih. Jadi, memang sangat segmented, bisa dibilang *niche market," ujar Karfili, kepada wartawan, saat ditemui di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, di ICE BSD, Minggu (2/8/2026). Menurut dia, ceruk pasar sedan hingga kini masih tetap bertahan meski tren kendaraan didominasi SUV dan MPV. Sebab, setiap konsumen memiliki kebutuhan yang berbeda dalam memilih kendaraan. "Tapi, kami percaya sebenarnya pasar itu masih ada. Jadi, ada kebutuhan orang itu berbeda-beda," kata Karfili. Bukan Sekadar Alat Transportasi Karfili menjelaskan, tidak semua konsumen membeli mobil hanya sebagai sarana mobilitas. Sebagian di antaranya menginginkan pengalaman berkendara yang lebih menyenangkan, sehingga sedan masih memiliki tempat di pasar Indonesia. "Ada orang yang memang membutuhkan mobil sebagai transportasi, tapi ada orang-orang tertentu yang mungkin bukan pembeli mobil pertama. Mereka ingin tetap merasakan rasa berkendara itu, makanya sedan tetap ada," ujarnya.