Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi berdampak pada industri otomotif, termasuk harga suku cadang atau spare part di pasar aftermarket. Berdasarkan data perdagangan Selasa (2/6/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp 17.839 per dollar AS. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku industri komponen otomotif, mengingat sebagian bahan baku dan material masih bergantung pada impor yang transaksinya menggunakan mata uang asing. Direktur Astra Otoparts Sophie Handili mengatakan, di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga material, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dan daya beli konsumen. "Di tengah dinamika depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya material, kami terus menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dan daya beli pelanggan," kata Sophie, kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026). Ilustrasi spare part motor listrk Disesuaikan Selektif Sophie menjelaskan, Astra Otoparts telah melakukan penyesuaian harga pada sebagian produk suku cadang. Namun, kenaikan biaya material tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen. Menurut dia, perusahaan tetap berupaya menjaga harga jual agar tetap kompetitif melalui berbagai strategi efisiensi dan pengendalian biaya. "Harga sebagian produk suku cadang telah disesuaikan, tetapi kami juga berupaya agar kenaikan harga material tidak sepenuhnya diteruskan kepada pelanggan," ujar Sophie. Lakukan Efisiensi dan Otomasi Untuk menekan dampak kenaikan biaya produksi, Astra Otoparts menjalankan sejumlah langkah internal. Salah satunya dengan menerapkan multisourcing material guna menjaga ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Selain itu, perusahaan juga meningkatkan produktivitas melalui otomasi di berbagai lini operasional serta menjalankan sejumlah program pengurangan biaya (cost reduction). "Selain melakukan review terhadap harga jual produk secara selektif, kami juga melakukan beberapa inisiatif internal seperti multisourcing material untuk menjaga ketersediaan material secara berkelanjutan," kata Sophie. Ia menambahkan, seluruh langkah tersebut dilakukan untuk menjaga struktur biaya dan harga tetap kompetitif dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kebutuhan bisnis, daya beli masyarakat, hingga kebutuhan pelanggan. Ragam pilihan oli mobil di bengkel Fast Pancoran, Jakarta Selatan Pelumas Naik di Atas 10 Persen Meski demikian, Sophie mengakui pelemahan rupiah dan kenaikan harga material tetap memberikan tekanan terhadap kinerja perusahaan. Astra Otoparts pun terus berupaya mengelola dampak yang timbul agar tidak mengganggu pasokan maupun daya saing produk di pasar. Secara umum, kenaikan harga rata-rata beberapa suku cadang otomotif di segmen aftermarket masih berada di bawah 10 persen. Namun, kondisi berbeda terjadi pada produk oli dan pelumas yang mengalami kenaikan harga lebih tinggi. "Pelemahan rupiah dan kenaikan harga material memberikan tantangan bagi perseroan. Namun demikian, kami berupaya mengelola dampak yang timbul dari kenaikan harga material," kata Sophie. "Kenaikan harga rata-rata beberapa suku cadang otomotif di segmen aftermarket kurang dari 10 persen, tetapi khusus untuk produk oli dan pelumas naik di atas 10 persen," ujarnya. Dengan kondisi nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan, harga suku cadang otomotif berpotensi mengalami penyesuaian secara bertahap. Meski demikian, pelaku industri berupaya menahan kenaikan agar tidak terlalu membebani konsumen dan menjaga daya saing produk di pasar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang